Sabtu, 03 Oktober 2015

17. Elizabeth Listiani - 00000009023

Langkah-langkah berpikir kritis:
a)          Mengenali masalah, jangan jump to conclusion.         
Pernah mengunjungi Taman Margasatwa Ragunan di hari libur, dan merasakan ngerinya terpisah dari rombongan di tengah ratusan ribu pengunjung yang berdesakan? Atau merasa kebingungan menjelajah kebun binatang terbesar kedua di dunia itu demi demi mencari kandang binatang favorit?
b)         Menemukan cara-cara untuk menangani masalah.
Semua itu bakal jadi masa lalu. Tak perlu lagi panik mencari teman seperjalanan yang terpisah, tak perlu lagi bingung mencari arah di rerindangan Taman Margasatwa Ragunan. Unduh aplikasi Ragunan Zoo, dan jadikan gawai pintar memandu.
Ragunan Zoo, yang diluncurkan sejak Juni 2015, memberi pengalaman baru menjelajah taman margasatwa seluas 147 hektar itu. Begitu dibuka, aplikasi itu memberikan informasi berbagai aktivitas menarik yang bakal berlangsung selama kunjungan Anda. Setiap pukul 15.00, misalnya, para pawang bakal memberi makan gorilla, salah satu satwa ikonik di Taman Margasatwa Ragunan.
c)          Mengumpulkan dan menyusun informasi yang diperlukan.
Bingung mencari kandang gorilla agar tiba tepat waktu? Aktifkan perangkat global positioning system (GPS) dalam gawai, lalu buka fasilitas peta dalam aplikasi itu. Segera saja, gawai menyuguhkan peta yang menuntun kita menuju kandang sang kera raksasa itu. Dengan cara yang sama, pengguna juga bakal menghemat waktu dalam mencari 2.010 satwa yang ada di taman margasatwa itu. Informasi singkat dan foto berbagai satwa koleksi Ragunan juga tersedia.
d)         Mengenali asumsi-asumsi yang tidak secara eksplisit dinyatakan orang lain.
Aplikasi Ragunan Zoo bisa menyelamatkan pengguna yang terpisah dari rombongan. Aplikasi itu memiliki fasilitas untuk mengirimkan lokasi pengguna ke gawai lain, bahkan ketika gawai tujuan tidak memasang aplikasi Ragunan Zoo.
Staf Hubungan Masyarakat Taman Margasatwa Ragunan Wahyudi Bambang P menyebutkan aplikasi Ragunan Zoo sebagai program  corporate social responsibility (CSR) dari Indosat, salah satu penyedia layanan telekomunikasi.
e)          Menggunakan bahasa yang tepat, jelas, menggunakan istilah sesuai topik, jangan bias.
Telepon pintar alias gawai sejatinya seperti pintu yang bisa kita bawa kemana-mana, membuat kapan saja kita bisa memasuki dunia maya dan menjangkau apa saja di dalamnya. Miliaran data, teks, foto, suara, bahkan video bisa dijangkau dari gawai.



f)            Mengevaluasi data, fakta, pernyataan-pernyataan.
“Aplikasi itu tergolong cepat dibangun. April lalu kami bertemu dengan Indosat, lalu pada Juni aplikasi itu sudah tersedia. Kami terus memberikan informasi terbaru, misalnya, koordinat kandang jerapah koleksi terbaru Ragunan. Para pengelola aplikasi dari Indosat memasukkannya sehingga informasi baru diketahui pengguna,” kata Wahyudi.
g)         Mencermati hubungan logis antara masalah dan jawaban.
Aplikasi Ragunan Zoo tergolong canggih karena memberi jurus anti tersesat bagi pengguna yang menjelajah taman margasatwa terbear di Asia itu. Namun, Ragunan Zoo bukan satu-satunya aplikasi pemandu. Aplikasi pemandu kian jamak digunakan untuk memperkaya pengalaman seseorang saat mengunjungi pameran, destinasi wisata, mendatangi museum, atau mencari koleksi perpustakaan misalnya.
h)         Menarik kesimpulan.
Namun, penggunaan berbagai aplikasi pandu dalam gawai gampang-gampang susah karena ditentukan kemampuan pemilik gawai beradaptasi dengan teknologi baru itu. Pameran seni rupa Art JOG 15 di Yogyakarta pada 6-28 Juni lalu misalnya, awalnya dirancang menjadi pameran yang sepenuhnya memandu pengunjung dengan aplikasi pemandu pameran dan QR Code. Belakangan, Heri Pemad selaku penyelenggara pameran memutuskan melapis panduan gawai dengan cara konvensional, yaitu pemandu pameran dan katalog fisik.
  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar