Minggu, 18 Oktober 2015

21. Valerie Xaverius Putri - 00000009061 dan 9. Mikael Sanjaya - 00000008930




Akhir-akir ini kasus akibat kekerasan di sekolah makin sering ditemui baik melalui informasi di media cetak maupun yang kita saksikan di layar televisi. Selain tawuran antar pelajar sebenarnya ada bentuk-bentuk perilaku agresif atau kekerasan yang mungkin sudah lama terjadi di sekolah-sekolah, namun tidak mendapat perhatian, bahkan mungkin tidak dianggap sesuatu hal yang serius.

Sekolah sebagai suatu institusi pendidikan, seharusya menjadi tempat yang aman yang nyaman bagi anak didik untuk mengembangkan dirinya, serta menjadikan anak didik yang mandiri, berilmu, berprestasi dan berakhlak mulia, bukan malah sebaliknya mencetak siswa- siswa yang siap pakai menjadi tukang jagal dan preman. Kasus bully di Indonesia sudah tidak asing lagi dikuping masyarakat, sudah terdapat banyak kasus bully yang mulai dari luka ringan bahkan sampai menyebabkan kematian.

Banyak faktor yang membuat siswa melakukan tindak kekerasan pada satu sama lain (bullying) contohnya, kurangnya perhatian dalam hidupnya sehingga ia mencari perhatian orang lain dengan melakukan kekerasan, tindakan meniru yang bisa diakibatkan dari menonton film di televisi, merasa punya kekuasaan (sok jago), senioritas, dan masih banyak lagi.

Ada banyak contoh bully yang terjadi dikalangan remaja sekarang ini seperti, menyisihkan seseorang dari pergaulan, menyebarkan gosip, mebuat julukan yang bersifat ejekan,  mengerjai seseorang untuk mempermalukannya, mengintimidasi atau mengancam korban, melukai secara fisik, melakukan pemalakan/ pengompasan.

Dampak yang di akibatkan dari pembulian ini adalah depresi, rendahnya kepercayaan diri / minder, pemalu dan penyendiri, merosotnya prestasi akademik,  merasa terisolasi dalam pergaulan, terpikir atau bahkan mencoba untuk bunuh diri.

Ada berbagai cara untuk mengatasi masalh bully ini contohnya adalah sebagai berikut, berbicara dengan orangtua si anak yang melakukan bully terhadap anak yang menjadi korban,  mengingatkan sekolah tentang masalah seperti ini, datangi konselor profesional untuk ikut membantu mengatasi masalah ini.

Jadi,  ada banyak kasus kekerasan yang terjadi di kalangan remaja di lingkungan sekolah tetapi banyak yang tidak menanggapi hal ini dengan serius karena merasa fase ini merupakan bagian dari pertumbuhan remaja, pemikiran seperti itu sangat salah, sebaliknya kasus kekerasan (bully) ini harus sangat diperhatikan karena masa – masa remaja adalah masa dimana seseorang mencari jati dirinya. Kasus bully harus segera dikurangi karena menyangkut nyawa seseorang, nyawa seseorang bisa menjadi taruhannya.

Source :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar