Rabu, 14 Oktober 2015

31. Rinaldi Kurniawan - 00000009143

Hubungan Antara Ilmu Komunikasi dengan Critical and Creative Thinking



Ini Pengakuan Agus, Pembunuh Bocah Dalam Kardus



JAKARTA, KOMPAS.com — Agus (39), pembunuh PNF (9), bocah yang tewas dalam kardus, menguraikan cerita saat peristiwa pembunuhan pada Jumat (2/10/2015) lalu. Dari penuturannya, Agus mengatakan, dia memanggil PNF saat baru membuka warungnya pada Jumat pagi. 

"Jumat pagi saya buka warung. Saya duduk, terus saya panggil," kata Agus dalam video saat diwawancarai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti beberapa waktu lalu. 

Agus melanjutkan, ia memanggil PNF untuk masuk ke dalam bedengnya. Tak berselang lama, PNF pun diajak masuk ke kamar. "Baru pertama dia masuk. Saya tutup pintu terus langsung saya sekap," kata Agus. 

Saat disekap, PNF berteriak. Agus panik dan langsung melepas kaus kaki dari sepatu PNF. "Saya sekap pakai kaus kaki dia biargak teriak. Saya ikat pakai kabel casan mulutnya sama kaus kaki. Saya gak tau kaus kaki kiri atau kanan," kata Agus. 

Agus mengaku tak melakukan penetrasi terhadap PNF. Terakhir, dia menyumpal mulut PNF dengan kaus kaki. 

Agus juga menceritakan bahwa dia membuang mayat PNF dengan menggunakan sepeda. "Sepeda saya siapkan. Saya angkat kardus dari kamar saya, taruh di depan sepeda. Pas maghrib, saya jalan," kata Agus. 

Ia kemudian menuju Jalan Sahabat, Kamal, Kalideres, Jakarta Barat, tempat di mana PNF dibuang dalam kardus. "Saya sampai (Jalan) Sahabat, saya buang di situ," kata Agus.

Agus (39) yang telah ditetapkan sebagai tersangka pembunuh PNF (9), bocah dalam kardus, dijerat Pasal 338 dan Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang Pembunuhan dan Pembunuhan Berencana. Pengumpulan bukti untuk penetapan Agus sebagai tersangka melalui metode scientific investigationdan kajian ilmiah tentang perangai seorang paedofil. 

Setelah sempat diperiksa sebagai saksi kasus pembunuhan PNF, polisi meyakini kepribadian dan ciri-ciri yang terdapat pada Agus sama dengan profil seorang paedofil. Dari sana, polisi mulai mendalami Agus dan akhirnya diketahui Agus memang memerkosa dan kemudian membunuh PNF. 

Kasus PNF berawal dari penemuan sebuah mayat di dalam kardus, tepatnya di Jalan Sahabat, Kelurahan Kamal, Kalideres, Jakarta Barat, Jumat. Awalnya, saksi mata curiga dengan sebuah kardus yang dibuang di pinggir jalan. 

Belakangan diketahui, isi kardus tersebut adalah seorang bocah perempuan yang diikat dan diplakban dengan kondisi mengenaskan agar bisa muat di kardus.



              Dari berita tersebut, kita bisa menjabarkan bahwa Ilmu Komunikasi adalah proses transaksi, interaksi dan tindakan satu arah. Hal yang dipelajari dari Ilmu Komunikasi salah satunya adalah Critical and Creative Thinking, seperti berita diatas, sebagai mahasiswa kita harus membaca dan menelaah berita tersebut lalu menganalisanya. Kita dapat mengemukakan pendapat kita dan berkomentar. Lalu dalam dunia Ilmu Komunikasi, dipelajari pula tata cara berargumen. Argumen adalah pendapat seseorang yang bertujuan memengaruhi orang. Premis dan Kesimpulan juga diperlukan dalam menyampaikan argumen. Contohnya, saya berargumen bahwa Paedofil itu sangat berbahaya bagi kalangan orang dewasa, karena mengganggu psikologis manusia. Selain Critical and Creative Thinking, saya juga mempelajari Creative Writing. Untuk menjadi penulis yang baik, cara penulisan dan isi berita harus menarik. Contohnya berita diatas, Berita tersebut memuat unsur 5W+1H, jadi pembaca bisa mengerti isi berita yang ditulis oleh penulis. Maka dari itu, untuk menjadi seorang Jurnalis yang handal, keterampilan dalam berpikir kritis sangat diperlukan. Contohnya, untuk sumber kreativitas ada wawasan, imajinasi, logika, intuisi dan evaluasi lingkungan. Dan elemen-elemen kreativitas terdiri dari Sensitivitas, Sinergi dan Serendivitas. Dari keterampilan-keterampilan tersebut, kita tarik bahwa konsep kreatif itu dimulai dari Start, Understand, Concentrate, Courage, Energize, Simplify dan Self Awareness.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa ingin membuat penemuan tentang mobil terbang. Pertama yang ia lakukan adalah, memulai dengan aksi yaitu mempelajari dasar-dasar teori bagaimana mobil itu bisa terbang, jika ia sudah memahami teori, otomatis ia mengerti cara kerja mobil tersebut. Setelah itu, ia harus konsentrasi terhadap yang ia ciptakan. Fokus sangat dibutuhkan untuk menjadi orang yang kreatif. Setelah itu, mulailah melakukan pembongkaran mobil untuk dijadikan bahan praktek, difase ini mahasiswa tersebut membutuhkan keberanian untuk mencoba hal yang ia sudah pelajari. Tak lupa ia harus menjaga diri supaya tetap fokus dan bersemangat dalam menyelesaikan projek tersebut. Lalu, jika sudah tercipta sebagaimana harusnya, ia harus menyederhakan konsep tersebut agar masyarakat luas bisa menerima bentuk daripada mobil terbang tersebut, Kesadaran diri juga penting bahwa pengetahuan yang ia kuasai belumlah seberapa, maka dari itu ia harus tetap belajar dan belajar.

Ilmu Komunikasi juga harus menuntut mahasiswa untuk menjadi komunikan yang baik. salah satunya berargumen yang baik sudah menjadi hal yang wajib dikuasai oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi. Tidak hanya itu, untuk mengembangkan ide-ide kreatif juga dibutuhkan pemikiran kritis dan mengembangknnya menjadi bisnis yang berpeluang besar.

Contohnya, Seorang marketing disalah satu mall membutuhkan orang yang pintar dalam berkomunikasi untuk keperluan bisnis nya. Seorang yang handal ini harus bisa masarkan produk nya seperti rumah, kosmetik, baju dll untuk ditawarkan kepada konsumen. Bagaimana agar konsumen tertarik? Kita balik lagi ke tata cara berargumen yang baik. Diperlukan percakapan yang bersifat persuasif agar konsumen mau membeli produk tersebut.

Untuk mewujudkan hal itu semua, dibutuhkan softskill yang cukup untuk berkecimpung dalam semua hal diatas. Memaksimalkan peluang yang ada itu penting untuk menjadi enterpreuner handal. Jangan takut untuk mengembangkan ide-ide brilliant yang akan menjadi peluang besar untuk mencapai kesuksesan.


Kritik dan saran : rkurniawan14@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar