Minggu, 15 November 2015

41. Sesilia Sophia Kadita - 00000009210


Dalam pertemuan ke delapan, kami diajarkan mengenai kesesatan dalam berargumen khususnya kesesatan relevansi. Kesesatan relevansi sendiri memiliki 9 jenis. Saya menemukan hal yang menarik setelah mempelajari hal ini. Banyak perkataan yang sering kita dengar atau bahkan kita ucapkan, termasuk dari kesesatan. Secara tidak sadar kita mengucapkan banyak hal, yang ternyata tidak berhubungan atau relevan. Namun ada juga kesesatan yang disengaja untuk mengajak (persuasi) contohnya dalam iklan.

Kesesatan-kesestaan tersebut penting diketahui oleh masyarakat, khususnya mahasiswa. Mengapa? Mahasiswa adalah calon-calon penerus bangsa. Argumen seorang penerus bangsa hendaknya tidak mengandung kesesatan yang bisa membingungkan. Jika argumen yang diutarakan sesat, apakah perilakunya tidak akan sesat?

Dengan mengetahui jenis-jenis kesesatan dalam berargumen, kita juga dihimbau untuk semakin teliti terhadap perkataan-perkataan orang di sekitar kita. Jeli untuk melihat apakah argumen orang lain mengandung kesesatan atau tidak. Dengan begitu, kita tidak begitu saja percaya dan setuju dengan perkataan orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar