Dalam
pertemuan ke delapan, kami diajarkan mengenai kesesatan dalam berargumen khususnya
kesesatan relevansi. Kesesatan relevansi sendiri memiliki 9 jenis. Saya menemukan
hal yang menarik setelah mempelajari hal ini. Banyak perkataan yang sering kita
dengar atau bahkan kita ucapkan, termasuk dari kesesatan. Secara tidak sadar
kita mengucapkan banyak hal, yang ternyata tidak berhubungan atau relevan. Namun
ada juga kesesatan yang disengaja untuk mengajak (persuasi) contohnya dalam
iklan.
Kesesatan-kesestaan tersebut penting
diketahui oleh masyarakat, khususnya mahasiswa. Mengapa? Mahasiswa adalah
calon-calon penerus bangsa. Argumen seorang penerus bangsa hendaknya tidak
mengandung kesesatan yang bisa membingungkan. Jika argumen yang diutarakan
sesat, apakah perilakunya tidak akan sesat?
Dengan mengetahui jenis-jenis
kesesatan dalam berargumen, kita juga dihimbau untuk semakin teliti terhadap
perkataan-perkataan orang di sekitar kita. Jeli untuk melihat apakah argumen
orang lain mengandung kesesatan atau tidak. Dengan begitu, kita tidak begitu
saja percaya dan setuju dengan perkataan orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar