Kesetaraan Gender dan Feminisme
Kesataraan Gender adalah keadaan
ketika perempuan maupun laki-laki memiliki posisi yang sama dalam memperoleh
hak-haknya sebagai manusia. Sedangkan feminisme adalah gerakan peremuan yang
menuntut emansipasi/kesamaan hak sebagai manusia. Kami mengaitkan kedua topik
ini karena ketika membicarakan kesetaraan gender, orang akan beranggapan bahwa
wanita lah yang
menjadi masalah. Orang beranggapan bahwa posisi wanita terkadang tergeser oleh
pria. Wanita sering dijadikan nomor dua setelah pria.
Setelah kami mewawancarai tiga orang narasumber, kami menemukan
bahwa kesetaraan gender belum terpenuhi seutuhnya. Hal ini dapat dibuktikan
melalui data-data berikut:
1. Gaji
perempuan lebih rendah dari lelaki
Para peneliti dari Higher Education
Careers Services Unit (Hecsu) menganalisa berapa gaji yang diperoleh lulusan
universitas tahun 2014 dan mendapatkan data bahwa gaji sarjana perempuan
memperoleh rata-rata lebih kecil dibandingkan rata-rata gaji sarjana laki-laki.
2. Di
Indonesia pada tahun 2012, kasus kekerasan terhadap perempuan telah mencapai
hingga 119 ribu.
3. Kasus
PHK pada perempuan lebih banyak dibandingkan pria.
Kasus PHK lebih sering terjadi
kepada perempuan, terutama bila perempuan tersebut tengah mengandung.
Salah satu narasumber kami
memberikan asumsi bahwa di Indonesia sendiri pun kesetaraan gender belum terpenuhi. Seperti pada suku
tertentu (contoh: Batak) anak laki-laki lebih diharapkan untuk meneruskan garis
keturunan keluarga. Selain itu, perempuan juga terkadang dianggap lemah,
dianggap tidak tahu apa-apa, dan tidak pernah mempunyai kedudukan dan
kesempatan yang sama seperti laki-laki. Ketika menikah ada syarat-syarat tertentu yang harus
dilakukannya untuk menjadi istri yang baik. Seperti diantaranya dibatasi dalam berkarier,
harus bisa memasak, harus selalu menjaga anak dan membereskan rumah, dan
lainnya.Tidak sebatas hal-hal sepele seperti ini, masih banyak
hal-hal lebih serius yang tidak mencerminkan kesetaraan gender di Indonesia.
Seperti “rape culture” yang merupakan
persepsi yang sangat salah yang mana perempuan disalahkan apabila menjadi
korban pemerkosaan karena gaya berpakaian yang dianggap “terbuka” atau
“mengundang”
Untuk menengahi masalah
tersebut, munculah gerakan feminisme oleh perempuan. Gerakan feminisme yang
paling berpengaruh dan terkenal adalah ketika R.A Kartini akhirnya bisa memajukan perempuan dengan
menuntut hak-hak yang setara dengan laki-laki sehingga perempuan bisa bekerja, mendapatkan pendidikan,
dan mempunyai kesempatan-kesempatan yang sama dengan laki-laki. Namun R.A
Kartini merupakan salah satu tokoh feminis paling mainstream yang Indonesia
punya. Masih banyak tokoh-tokoh feminis lain di Indonesia yang memperjuangkan
kesetaraan gender di Indonesia. Nama-nama seperti Gadis Arivia dan Nursyahbani
Katjasungkana, merupakan pejuang-pejuang kesetaraan gender modern di Indonesia.
Gadis
Arivia, seorang aktivis feminis di Indonesia dan merupakan dosen studi
feminisme dan filsafat di Universitas Indonesia. Pendiri Yayasan Jurnal
Perempuan di tahun 1996. Beliau mendirikan yayasan ini untuk memperjuangkan
demokrasi kaum perempuan yang masih sangat kurang terutama bagi wanita di
pedalaman. Banyak masalah-masalah yang belum tersentuh pemerintah seperti
pendidikan bagi perempuan dan masalah-masalah lain yang menyangkut kesetaraan
gender dan kesamaan kesempatan bagi perempuan yang berusaha diperjuangkan beliau
dan yayasannya. Beliau dan Yayasan Jurnal Perempuan sudah menerbitkan ratusan
jurnal ilmiah mengenai feminisme dan memiliki program Radio Jurnal Perempuan
yang dimulai sejak tahun 1999. Beliau juga menerbitkan buku yang berjudul
“Filsafat Berperspektif Feminis” yang mendukung gerakan feminisme dan
kesetaraan gender.
Kemudian
ada Nursyahbani Katjasurjana.Beliau merupakan salah satu tokoh feminis
Indonesia yang berusaha memperjuangkan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender
di Indonesia dengan aktivitasnya di berbagai organisasi. Beliau pernah memimpin
proyek penelitian tentang gender dan akses pada keadilan yang disponsori oleh
Asia Pacific Forum on Women, Law, and Development. Beliau juga pernah menjabat
sebagai direktur Lembaga Bantuan Hukum di bidang Asosiasi Perempuan Untuk
Keadilan. Beliau juga aktif berorganisasi memperjuangkan
hak-hak perempuan dengan menjabat di posisi penting di beberapa organisasi
seperti Work Group Coordinator of Indonesian's NGO Forum on Women. Beliau juga pernah menjabat sebagai Sekjen Koalisi Perempuan Untuk Keadilan dan Demokrasi, Board Member of Women Law and Development
International, dan Anggota Komisi Nasional Kekerasan terhadap Perempuan
Kesetaraan gender bukanlah hal
yang mudah untuk dituju. Butuh kesadaran dari masing-masing pribadi untuk
mencapai kesetaraan gender yang utuh. Seperti salah satu narasumber yang
berkata bahwa harus ada sebuah mindset bahwa tidak ada gender yang superior.
Harus ada pihak-pihak yang berusaha menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai ini
terutama di Indonesia yang mana kesadaran akan kesetaraan gender masih dianggap
kurang. Salah satu yang paling efektif menurut narasumber adalah melalui sosial
media yang sedang berkembang. Sosial media dan jumlah audiens yang sangat besar
dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyebarkan pengertian bahwa setiap
gender mempunyai hak dan kedudukan yang sama di masyarakat dan tidak ada yang
bisa membatasi hidup mereka, baik laki-laki maupun perempuan.
Namun, Perempuan juga bisa
melakukan sesuatu untuk mendapatkan hak mereka. Seperti apa yang telah
dilakukan R.A Kartini, perempuan dapat mempertegas keberadaan mereka. Perempuan
harus bisa menggebrak dan membuktikan bahwa mereka juga mampu berdiri seperti
laki-laki. Salah satunya dengan berprestasi dan aktif
memperjuangkan hak-haknya seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh feminisme di
Indonesia yang memperjuangkan kesetaraan gender untuk perempuan. Dengan begitu,
perempuan di Indonesia tidak akan lagi dipandang sebelah mata dan pada akhirnya
akan memperoleh kesetaraan dengan mempunyai kesempatan dan hak-hak yang sama di
masyarakat tanpa harus dibatasi oleh persepsi-persepsi atau pandangan yang
salah tentang kedudukan gender.
Sumber Lainnya :
http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/98-filsuf-dan-aktivis-gerakan-feminisme
Tidak ada komentar:
Posting Komentar