Jumat, 16 Oktober 2015

2. Klara Livia Silitonga - 00000008859


Hubungan Ilmu Komunikasi dengan Berpikir Kritis dan Kreatif


Ilmu Komunikasi adalah ilmu yang mempelajari tata cara berkomunikasi untuk menyampaikan pesan secara baik dan benar. Tidak lepas dari itu, ilmu komunikasi juga mempelajari cara menjadi pendengar yang baik. 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dalam ilmu komunikasi mahasiswa mempelajari tata cara berkomunikasi dan cara menjadi pendengar yang baik. Mahasiswa juga perlu mempelajari cara berpikir kritis dan kreatif. 

Dalam memelajari pemikiran kritis dan kreatif, kita memelajari cara untuk berpikir logis, cepat memecahkan masalah, tepat, dan selalu sesuai dengan data. Hal ini dapat tampak ketika seseorang berargumentasi. Orang yang tidak memelajari cara berpikir kritis dan kreatif akan beragumen sesuai subjektifitasnya. Contohnya, dalam perdebatan mengenai ujian nasional. Orang yang tidak memelajari cara berpikir kritis dan kreatif akan berdebat dengan banyak kata "saya" dan tidak ada data yang mereka tunjukkan. Ketika telah memelajari pemikiran kritis dan kreatif, mereka akan menyampaikan  data dan fakta yang telah mereka dapatkan. Hal ini juga membuka wawasan mahasiswa bahwa komunikasi tidak bisa sembarang. Dalam berkomunikasi apa yang ingin kita katakan tidak bisa selalu diutarkan bila hal tersebut tidak sesuai dengan data dan fakta yang ada. Karena ketika kita telah mengucapkan kata-kata yang salah, kata-kata tersebut tidak dapat ditarik kembali.

Saya mengambil contoh seorang jurnalis, karena tujuan saya dalam mempelajari ilmu komunikasi ini adalah dunia jurnalistik.  Seorang jurnalis yang handal selalu berpikir cepat, kritis, dan selalu berkata-kata sesuai dengan data dan fakta, tidak subjektif ataupun empiris.  Ketika ia berbicarapun, ia selalu menyadari perkataannya. Jurnalis akan berhati-hati dengan apa yang dia ucapkan. Seorang jurnalis yang handal selalu berbicara sesuai dengan data-data yang ada, tidak lagi mencampurkan subjektifitas dalam setiap perkataannya. Ia juga kritis dalam mewawancarai narasumber. Ia akan mengetahui apakah narasumbernya hanya mengatakan opini pribadi atau betul menjelaskan fakta yang terjadi. Dalam hal kreatif, jurnali membuat berita yang menarik sehingga mampu membuat pembaca tertarik dengan tulisannya. Misalnya dari judulnya. Namun sekali lagi kreatif di sini juga harus dikaitkan dengan kritis. Apakah berita tersebut menarik dan layak, atau menarik namun tidak layak baca?

Sebagai seorang komunikator handal, akhirnya seseorang dapat mengajak pendengar/penontonnya setuju dengan apa yang dia ucapkan. Untuk mendapatkan kehandalan ini, ia perlu memelajari cara-cara berargumentasi. Bahwa dalam berargumentasi tidak selamanya yang benar itu benar, dan yang salah itu salah. Ada ketentuan-ketentuan mengenai validitas dan nilai kebenaran. Keterampilan-keterampilan dalam berpikir kritis dan kreatif ini dapat dipakai untuk berargumen.


kritik dan saran: clarelivvi@gmail.com


1 komentar: