Kamis, 15 Oktober 2015

27. Axela Rosean – 00000009119 dan 39. Siti Rinda – 00000009201



Keefektifan MOS

MOS atau Masa Orientasi Siswa mempunyai banyak sisi pro dan kontra. Tujuan awal kegiatan ini adalah mengenalkan calon siswa-siswi baru kepada lingkungan sekolah. Kegiatan ini merupakan salah satu contoh kegiatan yang positif, karena siswa-siswi diajak untuk lebih mengenal tata cara belajar, kegunaan fasilitas sekolah, ekstrakulikuler sekolah, dan masih banyak lagi. Dengan MOS, siswa-siswi diharapkan dapat memiliki gambaran seperti apa belajar ditingkatan yang lebih tinggi dari sebelumnya seperti SD ke SMP, SMP ke SMA, dan SMA ke Universitas.
Namun, belakangan ini kegiatan MOS banyak disalah artikan oleh siswa-siswi senior sekolah. Mereka menganggap kegiatan MOS adalah ajang untuk menunjukkan kekuasaan kepada juniornya, dengan cara memarahi, mempermalukan, bahkan ada yang sampai melukai fisik. MOS sudah menjadi sebuah bentuk bullying. Karena hal ini, banyak kasus siswa-siswi yang tidak kuat sampai akhirnya jatuh sakit karena kelelahan bahkan ada yang sampai meninggal. Kegiatan MOS terlalu melelahkan dan terkesan paksaan. Kegiatan ini pun mulai turun-temurun ke generasi selanjutnya sampai pada akhirnya kegiatan MOS menjadi ajang balas dendam senior kepada junior, karena mereka diperlakukan seperti itu oleh generasi sebelumnya.
MOS mulai menjadi tidak efektif dan tidak baik. Sudah banyak orang tua yang tidak terima dan mengeluh akan hal ini dan menimbulkan banyak pro dan kontra.
Untuk itu, kami melakukan survei kepada beberapa orang tentang “Bagaimana keefektifan MOS untuk anda?” Menurut 3 dari 5 orang yang kami tanyai, mereka mengatakan setuju dengan adanya kegiatan MOS ini. 3 orang berpendapat bahwa dengan adanya kegiatan MOS ini dapat membentuk mental dan karakter seseorang untuk lebih siap menghadapi kehidupan sekolah dengan tingkat yang lebih tinggi selanjutnya. Ketiga orang ini menyatakan bahwa dengan adanya kegiatan MOS seperti; pengenalan sekolah dan aksi lucu-lucuan (rambut diikat sesuai tanggal lahir, pakai kaos kaki belang, memakai tas dari tempat sampah) junior-junior akan terbentuk mental dan karakternya untuk lebih siap menghadapi sekolah barunya. 2 orang tidak setuju, karena kegiatan MOS ini merupakan ajang balas dendam agar junior bisa merasakan apa yang senior rasakan dahulu. Mereka merasa MOS tidak membawa pengaruh baik bahkan membuat mereka sampai harus masuk ke medis karena terlalu lelah.
Jadi, sebagian besar siswa-siswi memilih agar kegiatan MOS tetap diadakan karena pihak sekolah masih berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang ditanamkan pada kegiatan MOS dan masih banyak senior yang berusaha memperbaiki kegiatan MOS agar lebih efektif dan menyenangkan untuk generasi selanjutnya, sehingga membuat calon siswa-siswi baru antusias untuk mengikutinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar