1. Marco Kusumawijaya
Salah satu calon gubernur DKI Jakarta yang
mempunyai pegangan menggunakan platform-nya.
Pada cuplikan acara ini beliau terlihat yakin dengan latar belakang yang ia
miliki dan posisinya sebagai ahli tata kota. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya
warga menuntut kualitas hidup yang lebih baik, yang berarti berhubungan dengan
lingkungan yang baik. Pak Marco juga dengan pedenya mengatakan bahwa, timnya
sudah melakukan berbagai pertemuan dan akan terlihat hasilnya pada beberapa
minggu kedepan. Intinya beliau merasa ia dapat membangun Jakarta menjadi lebih
baik dari pada competitor yang lain, termasuk Pak Ahok. Kesesatan ini termasuk
dalam jenis populum langsung.
2. Adhyaksa Dault
Ketua Kwartir Nasional Pramuka yang
menyampaikan pendapatnya menggunakan kesesatan pengalihan perhatian, terlihat
pada saat beliau menjawab pertanyaan, tidak secara langsung tetapi memutar
jawaban ke arah yang lain, sehingga ini membingungkan penonton ketika mendengar
jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan.
Terdapat juga kesesatan jenis hominem sirkumstansial, yang terlihat pada dakwanya kepada Pak Ahok yang menunjukkan bahwa beliau berharap Pak Ahok berpindah agama menjadi Islam, dengan begitu maka Pak Ahok bisa maju dengan lancar tanpa hambatan.
Kesesatan lainnya yaitu jenis verecundiam. Beliau mengatakan secara panjang lebar tentang latar belakang yang ia miliki, jabatan apa saja yang pernah ia duduki, dan teman-teman yang mendukung beliau untuk maju. Padahal pada awalnya beliau mengatakan bahwa ia tidak mengincar kedudukan. Tetapi secara tidak langsung ia sedang mempromosikan dirinya sendiri kepada masyarakat.
Terdapat juga kesesatan jenis hominem sirkumstansial, yang terlihat pada dakwanya kepada Pak Ahok yang menunjukkan bahwa beliau berharap Pak Ahok berpindah agama menjadi Islam, dengan begitu maka Pak Ahok bisa maju dengan lancar tanpa hambatan.
Kesesatan lainnya yaitu jenis verecundiam. Beliau mengatakan secara panjang lebar tentang latar belakang yang ia miliki, jabatan apa saja yang pernah ia duduki, dan teman-teman yang mendukung beliau untuk maju. Padahal pada awalnya beliau mengatakan bahwa ia tidak mengincar kedudukan. Tetapi secara tidak langsung ia sedang mempromosikan dirinya sendiri kepada masyarakat.
3. Prasetyo Edi Marsudi
Ketua DPRD sekaligus sekretaris DPD PDI
Perjuangan, beliau menggunakan kesesatan elenchi. Ketika diberi pertanyaan
apakah PDI perjuangan mendukung atau melawan Pak Ahok, jawaban yang beliau
berikan tidak menjawab pertanyaan dan juga melesat ke ketegasan Pak Ahok yang
masih membuat kita kekurangan, artinya kerja baik tapi etika tidak ada sehingga
menciptakan konflik.
4. Mohammad Sanusi
Fraksi Partai Gerindra dan anggota DPRD DKI
Jakarta, beliau sangat yakin dapat menang melawan Pak Ahok dan juga beliau
sangat yakin dengan 99,999% bahwa Gerindra tidak akan menerima Pak Ahok kembali
untuk bergabung dan tidak akan
mencalonkan Pak Ahok . beliau juga menambahkan pada sekarang ini, pemimpin itu
hanya selalu merasa bisa tapi kurang bisa merasa, pemimpin itu jangan menjadi
tontonan tapi harus jadi tuntunan. Pada bagian ini terlihat beliau sedang
menyindir Pak Ahok dan terjadi kesesatan hominem merendahkan.
5.
Bursah
Zarnubi
Lawan Ahok, ia menggunakan kesesatan hominem merendahkan.
Terlihat pada saat menjawab beberapa pertanyaan, ia menuding sebanyak 2 kali
kepada Teman Ahok yaitu Tubagus
Ramadhan. Tudingan tersebut adalah ia
mengatakan poster yang beredar merupakan hasil pekerjaan Teman Ahok, dan juga
ia mengaku kecewa terhadap Metro TV yang menyiarkan saat Pak Ahok berkata kasar
menghina DPRD.
Ia juga mengatakan bahwa Pak Ahok mengumpulkan relawan untuk membantunya mengumpulkan 1 juta KTP. Padahal yang ia katakan tidaklah benar.
Ia juga mengatakan bahwa Pak Ahok mengumpulkan relawan untuk membantunya mengumpulkan 1 juta KTP. Padahal yang ia katakan tidaklah benar.
6. Tubagus Ramadhan
Teman Ahok, ia menggunakan argument bayangan saat menanyakan kejelasan maksud Lawan Ahok yang tidak relevan, antara ingin menghentikan Pak Ahok dalam berbicara kasar atau mencegah Pak Ahok untuk menjadi calon gubernur.
Teman Ahok, ia menggunakan argument bayangan saat menanyakan kejelasan maksud Lawan Ahok yang tidak relevan, antara ingin menghentikan Pak Ahok dalam berbicara kasar atau mencegah Pak Ahok untuk menjadi calon gubernur.
Najwa Shihab
Pertanyaan Najwa yang memperlihatkan bahwa ia
berpihak kepada Pak Ahok adalah saat ia mengajukan pertanyaan kepada Mohammad
Sanusi, “Berani maju? Menang ga? Yakin? Kok Anda bisa pede banget pasti
menang?” Lalu bagian berikutnya adalah pada bagian nada tertawanya kepada Adhyaksa yang
mengaku tidak mendengar cuplikan Pak Ahok. Juga pada bagian saat Bursah Zarnubi
mengatakan sesuatu yang negatif mengenai Pak Ahok, tetapi Najwa menyangkalnya
dengan cuplikan Pak Ahok yang ternyata mendukung Bursah Zarnubi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar