Jumat, 08 Januari 2016

8. Luz Clarita Sinjaya (00000008928)

Tugas Mencari Kesesatan Mata Najwa : Para Penantang Ahok

1.      Marco Kusumawijaya
Salah satu calon gubernur DKI Jakarta yang mempunyai pegangan menggunakan platform-nya. Pada cuplikan acara ini beliau terlihat yakin dengan latar belakang yang ia miliki dan posisinya sebagai ahli tata kota. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya warga menuntut kualitas hidup yang lebih baik, yang berarti berhubungan dengan lingkungan yang baik. Pak Marco juga dengan pedenya mengatakan bahwa, timnya sudah melakukan berbagai pertemuan dan akan terlihat hasilnya pada beberapa minggu kedepan. Intinya beliau merasa ia dapat membangun Jakarta menjadi lebih baik dari pada competitor yang lain, termasuk Pak Ahok. Kesesatan ini termasuk dalam jenis populum langsung.

2.      Adhyaksa Dault
Ketua Kwartir Nasional Pramuka yang menyampaikan pendapatnya menggunakan kesesatan pengalihan perhatian, terlihat pada saat beliau menjawab pertanyaan, tidak secara langsung tetapi memutar jawaban ke arah yang lain, sehingga ini membingungkan penonton ketika mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan.
Terdapat juga kesesatan jenis hominem sirkumstansial, yang terlihat pada dakwanya kepada Pak Ahok yang menunjukkan bahwa beliau berharap Pak Ahok berpindah agama menjadi Islam, dengan begitu maka Pak Ahok bisa maju dengan lancar tanpa hambatan.
Kesesatan lainnya yaitu jenis verecundiam. Beliau mengatakan secara panjang lebar tentang latar belakang yang ia miliki, jabatan apa saja yang pernah ia duduki, dan teman-teman yang mendukung beliau untuk maju. Padahal pada awalnya beliau mengatakan bahwa ia tidak mengincar kedudukan. Tetapi secara tidak langsung ia sedang mempromosikan dirinya sendiri kepada masyarakat.

3.      Prasetyo Edi Marsudi
Ketua DPRD sekaligus sekretaris DPD PDI Perjuangan, beliau menggunakan kesesatan elenchi. Ketika diberi pertanyaan apakah PDI perjuangan mendukung atau melawan Pak Ahok, jawaban yang beliau berikan tidak menjawab pertanyaan dan juga melesat ke ketegasan Pak Ahok yang masih membuat kita kekurangan, artinya kerja baik tapi etika tidak ada sehingga menciptakan konflik.

4.      Mohammad Sanusi
Fraksi Partai Gerindra dan anggota DPRD DKI Jakarta, beliau sangat yakin dapat menang melawan Pak Ahok dan juga beliau sangat yakin dengan 99,999% bahwa Gerindra tidak akan menerima Pak Ahok kembali untuk bergabung dan tidak  akan mencalonkan Pak Ahok . beliau juga menambahkan pada sekarang ini, pemimpin itu hanya selalu merasa bisa tapi kurang bisa merasa, pemimpin itu jangan menjadi tontonan tapi harus jadi tuntunan. Pada bagian ini terlihat beliau sedang menyindir Pak Ahok dan terjadi kesesatan hominem merendahkan.

5.      Bursah Zarnubi 
Lawan Ahok, ia menggunakan kesesatan hominem merendahkan. Terlihat pada saat menjawab beberapa pertanyaan, ia menuding sebanyak 2 kali kepada Teman Ahok yaitu Tubagus Ramadhan. Tudingan tersebut adalah ia mengatakan poster yang beredar merupakan hasil pekerjaan Teman Ahok, dan juga ia mengaku kecewa terhadap Metro TV yang menyiarkan saat Pak Ahok berkata kasar menghina DPRD. 
Ia juga mengatakan bahwa Pak Ahok mengumpulkan relawan untuk membantunya mengumpulkan 1 juta KTP. Padahal yang ia katakan tidaklah benar.

6.      Tubagus Ramadhan
Teman Ahok, ia menggunakan argument bayangan saat menanyakan kejelasan maksud Lawan Ahok yang tidak relevan, antara ingin menghentikan Pak Ahok dalam berbicara kasar atau mencegah Pak Ahok untuk menjadi calon gubernur.

Najwa Shihab
Pertanyaan Najwa yang memperlihatkan bahwa ia berpihak kepada Pak Ahok adalah saat ia mengajukan pertanyaan kepada Mohammad Sanusi, “Berani maju? Menang ga? Yakin? Kok Anda bisa pede banget pasti menang?” Lalu bagian berikutnya adalah pada bagian nada tertawanya kepada Adhyaksa yang mengaku tidak mendengar cuplikan Pak Ahok.  Juga pada bagian saat Bursah Zarnubi mengatakan sesuatu yang negatif mengenai Pak Ahok, tetapi Najwa menyangkalnya dengan cuplikan Pak Ahok yang ternyata mendukung Bursah Zarnubi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar