Christian Karnanda Yang - 00000008881
Berdasarkan tayangan Mata Najwa yang berjudul "Para Penantang Ahok" ditemukan beberapa kesesatan yang dilakukan baik oleh narasumber maupun Najwa Shihab sendiri.
1. Marco Kusumawijaya
Menggunakan kesesatan populum langsung dengan mempromosikan dirinya sendiri melalui media televisi mengenai program-programnya, pengalamannya, dan terutama statusnya sebagai ahli tata kota yang dianggap bisa memimpin Jakarta dan menata Jakarta dengan lebih baik daripada kompetitornya terutama dalam hal ini Ahok.
2. Adhyaksa Dault
Menggunakan kesesatan verecundiam dikombinasi dengan populum langsung dan hominem sirkumstansial.
Kesesatan verecundiam yang dikombinasi dengan populum langsung terlihat saat beliau selalu menekankan tentang pengalaman beliau di dunia politik, bahwa beliau sudah menjadi menteri lima tahun selama pemerintahan SBY, juga sepak terjangnya sebagai ketua kwartir nasional pramuka serta sebagai pengurus dari organisasi-organisasi yang beliau pimpin, membuatnya merasa yakin dan pantas dapat memimpin Jakarta lebih baik daripada kompetitor lainnya terutama Ahok. Secara tidak langsung juga mempromosikan diri sendiri melalui media televisi agar masyarakat memilihnya.
Kesesatan hominem sirkumstansial terlihat saat beliau mengatakan beliau akan mendukung Ahok sebagai gubernur, bahkan mendukungnya menjadi presiden RI apabila Ahok memeluk agama Islam dengan menyuruhnya untuk memeluk agama Islam. Beliau juga mengatakan bahwa sebagai Muslim ia ingin dipimpin oleh seseorang yang beragama Muslim juga. Secara tidak langsung merendahkan Ahok dan menunjukkan bahwa dengan Ahok yang merupakan non-Muslim, Ahok dirasa tidak berkualifikasi sebagai pemimpin.
Kedua kesesatan ini juga menimbulkan kesesatan pengalih perhatian dengan beliau yang terkesan bertele-tele dan menyombongkan diri untuk melakukan pencitraan sebagai calon gubernur DKI Jakarta dengan mengalihkan pembicaraan pada saat ditanya Najwa untuk maju sebagai calon gubernur atau tidak (dengan melakukan kesesatan verecundiam dan populum langsung) dan pada saat ditanya mengenai komentarnya mengenai kepercayaan yang dipegang Ahok (dengan melakukan kesesatan hominem sirkumstansial).
3. Mohammad Sanusi (Fraksi Partai Gerindra dan anggota DPRD DKI Jakarta)
Menggunakan kesesatan elenchi dan hominem merendahkan, pada saat beliau berkata bahwa Ahok ingin kembali ke Gerindra namun beliau mengatakan Gerindra tidak akan mau. Juga dengan beliau yang mengatakan bahwa Ahok terkesan "mengemis kepada Gerindra" pada saat Ahok ingin maju secara independen namun tidak mendapat KTP yang cukup. Beliau juga secara tidak langsung mekritisi gaya pemimpin Ahok yang keras dengan mengatakan "... pemimpin jangan jadi tontonan, harus menjadi tuntunan". Sambil menyinggung bahwa Ahok tegas namun tidak bisa menjaga perkataannya. Beliau secara tidak langsung juga mengatakan bahwa Ahok jujur namun terlalu sering mencari-cari kesalahan orang-orang yang dirasa tidak jujur. Terkesan menjelekkan Ahok untuk menurunkan elektabilitasnya dan secara tidak langsung merasa bahwa dirinya lebih mampu untuk memimpin Jakarta daripada Ahok dengan pembicaraan yang menjurus kepada rumor pencalonan dirinya sebagai calon gubernur.
4. Prasetyo Edi Marsudi
Kesesatan hominem merendahkan dengan elenchi. Saat ditanya mengenai kader PDIP yang berpotensi untuk maju ke pilkada Jakarta (Wagub Djarot) beliau malah menjuruskan pembicaraan dengan merendahkan Ahok yang dikata tidak beretika dengan omongannya yang dirasa terlalu keras. Beliau juga mengatakan bahwa cara kerja Ahok yang memecat PNS yang tidak bekerja dengan baik kegiatan pemerintahan menjadi tidak efektif. Secara tidak langsung menurunkan elektabilitas Ahok.
5. Bursah Zarnubi
Menggunakan kesesatan hominem merendahkan Ahok tidak beretika dengan dirasa berkata-kata kotor saat marah (gaya kepemimpinan yang keras) dan menuduh bahwa Ahok yang belum selesai menjabat sebagai gubernur sengaja menyuruh para relawan Teman Ahok untuk mendukungnya dengan mengumpulkan KTP. Beliau juga menuduh Teman Ahok mengolok-olok dirinya dengan menyebarkan poster yang membuatnya terkesan ingin maju sebagai calon gubernur dengan membentuk gerakan Lawan Ahok. Juga dengan mengatakan bahwa Ahok terkesan "mengemis dukungan" kepadanya. Kesesatan hominem sirkumstansial juga muncul dengan beliau mengungkit-ungkit latar belakang agama dan suku Ahok yang Kristen dan Tionghoa yang terkesan merendahkan dengan beliau berkata dengan latar belakang demikian Ahok kurang mendapat dukungan.
6. Tubagus Ramadhan
Menggunakan kesesatan argument bayangan dengan menanyakan apakah gerakan lawan Ahok ingin menghentikan Ahok untuk berkata-kata kotor atau menghentikan pemerintah yang otoriter. Berusaha untuk menunjukkan bahwa Bursah Zarnubi dan gerakannya tidak relevan dan bukan ingin menjadi gerakan moral tetapi ingin mencegah Ahok untuk melanjutkan pencalonannya sebagai calon gubernur DKI Jakarta.
7. Najwa Shihab
Dianggap kurang netral sebagai mediator dan jurnalis dalam forum ini dengan cenderung untuk mendukung Ahok. Dengan mengemukakan beberapa sarkasme di beberapa kesempatan.
Pada saat ia menanyakan Mohammad Sanusi mengenai Ahok yang tidak lagi diterima lagi oleh Gerindra. Ia berusaha menyerang dengan membacakan sebuah kutipan yang intinya bahwa Ahok masih diterima di Gerindra. Berusaha diklarifikasi oleh Moh. Sanusi namun Najwa malah berkata bahwa Gerindra plin-plan
Nada bicaranya dan raut muka yang terkesan mengejek pada saat ia melakukan klarifikasi saat Adhyaksa Dault mengaku tidak mendengar pernyataan Ahok yang mengatakan bahwa Adhyaksa Dault ingin Ahok masuk Islam.