Tugas mencari kesesatan dari program Mata Najwa: Para
Penantang Ahok
1.
Adhyaksa Dault
Kesesaatan beliau yang dapat kita lihat
yang pertama adalah kesesatan verecundiam dan populum langsung. Ketika Najwa
bertanya dari ukuran dukungan yang didapat oleh Adhyaksa, apakah beliau dapat
menyaingi ahok. Dengan nada yang tegas beliau mengatakan bahwa dia pernah
menjadi menteri 5 tahun, ketua KNPI,
HMI. Kemudian beliau juga mengatakan tidak mencari kekuasaan, padahal dengan
jelas dia menceritakan latar belakang dan menyebutkan nama tokoh-tokoh besar yang
mendukung beiau. Dengan demikian sebenarnya beliau secara tidak langsung sedang
mempromosikan dirinya sendiri.
Yang Kedua adalah pengalihan perhatian,
Ketika sebenarnya Najwa hanya menanyakan pertanyaan singkat yaitu apakah bung
Adhyaksa mantap untuk maju menjadi calon Gubernur, bung Adhyaksa menjawab
dengan berbelit-belit. Seperti, dirinya telah dikukung oleh tokoh-tokoh ternama
dan lain sebagainya.
Yang ketiga adalah kesesatan hominem
sirkumstansial, kesesatan ini terlihat ketika bung Adhyaksa mengatakan bahwa
Ahok akan didukung oleh beliau bila dia beragama Islam. Secara tidak langsung
pandangan beliau terhadap Ahok menurun karena Ahok non-muslim
2.
Marco Kusumawijaya
Kesesatan populum langsung, hal ini dapat
dilihat ketika beliau dengan tegas mengatakan bahwa dia memiliki keunggulan
dari calon Gubernur lain dilihat dari platform yang dia usulkan. Seperti beliau
menyebutkan paling berpengalaman di bidang lingkungan, paling banyak bekerja
dalam komunitas dan berkeja di seni
budaya. Beliau juga mengatakan bahwa beliau adalah mantan Ketua Dewan Kesenian
Jakarta. Secara tidak langsung beliau
juga mempromosikan dirinya sebagai calon gubernur.
3.
Prasetyo Edi
Kesesatan hominem merendahkan dan
ignorantio elenchi, dapat dilihat ketika bung Prasetyo menyatakan bahwa dia
tidak mau maju menjadi calon gubernur dengan alasan permasalahan Jakarta tidak
mudah , lalu tiba-tiba dia mengatakan dengan ketegasan Ahok masih kurang lalu
menyangkut pautkan dengan etika beliau Ahok yang kurang baik. Hal ini sangat
tidak berhubungan dengan pernyataan utama yang menjadi alasan bung Prasetyo
tidak mau menjadi Gubernur, malah merendahkan beliau Ahok.
4. Mohammad Sanusi
Kesesatan hominem merendahkan, dapat dilihat
ketika beliau mengatakan pimpinan jangan hanya jadi tontonan tetapi juga
tuntutan, dan yang paling terlihat adalah “tegas boleh, tetapi kata-katanya
harus dijaga.”. Secara tidak langsung, beliau sedang menyindir Ahok.
5. Najwa Shihab
Terlihat memihak Ahok saat dia menanyakan
beliau Sanusi, “berani maju? Melawan Ahok?
Menang gak?” Hal ini ditanyakan dengan nada yang sedikit meremehkan.
Begitu pula, saat Najwa mengkonfirmasi bahwa partai Gerindra, selalu membukakan
pintu untuk Ahok namun bung Sanusi mengatakan intinya tidak. Najwa lalu
mengatakan Gerindra partai yang plin-plan.
6.
Bursah Zarnubi
Sebagai penggagas “Lawan Ahok” menggunakan
kesesatan hominem merendahkan. Beliau mengatakan bahwa Ahok sering menggunakan
kata-kata kasar dan tidak beretika. Beliau menambahkan Ahok menindas rakyat dan
pemimpin yang otoriter. Beliau juga memfitnah bahwa Ahok yang sengaja membuat
tim relawan, dan poster yang mendukung beliau menjadi calon Gubernur dibuat
oleh tim relawan Ahok untuk menjatuhkan Ahok. Beliau juga menggunakan kesesatan
verecundiam, dengan tegas mengatakan
beliau adalah senior poitisi dan menyebutkan bahwa yang menjadi penonton Mata Najwa di studio
adalah para pendukung ahok serta semua
ini adalah sudah menjadi akal-akalan Metro TV.
7.
Tubagus Ramadhan
Secara langsung menyindir gerakan yang di gagas oleh bung Bursah Zarnubi plin-plan. Dapat dilihat dari pertanyaan beliau yaitu “jadi sebenarnya ingin menghentikan pemimpin yang otoriter atau ingin agar Ahok tidak berkata kasar lagi? Ini terlihat inkonsisten.”