Minggu, 06 Desember 2015

Analisis Program Mata Najwa "Para Penantang Ahok"

Christian Karnanda Yang - 00000008881

Berdasarkan tayangan Mata Najwa yang berjudul "Para Penantang Ahok" ditemukan beberapa kesesatan yang dilakukan baik oleh narasumber maupun Najwa Shihab sendiri.

1. Marco Kusumawijaya

Menggunakan kesesatan populum langsung dengan mempromosikan dirinya sendiri melalui media televisi mengenai program-programnya, pengalamannya, dan terutama statusnya sebagai ahli tata kota yang dianggap bisa memimpin Jakarta dan menata Jakarta dengan lebih baik daripada kompetitornya terutama dalam hal ini Ahok.

2. Adhyaksa Dault

Menggunakan kesesatan verecundiam dikombinasi dengan populum langsung dan hominem sirkumstansial.

Kesesatan verecundiam yang dikombinasi dengan populum langsung terlihat saat beliau selalu menekankan tentang pengalaman beliau di dunia politik, bahwa beliau sudah menjadi menteri lima tahun selama pemerintahan SBY, juga sepak terjangnya sebagai ketua kwartir nasional pramuka serta sebagai pengurus dari organisasi-organisasi yang beliau pimpin, membuatnya merasa yakin dan pantas dapat memimpin Jakarta lebih baik daripada kompetitor lainnya terutama Ahok. Secara tidak langsung juga mempromosikan diri sendiri melalui media televisi agar masyarakat memilihnya.

Kesesatan hominem sirkumstansial terlihat saat beliau mengatakan beliau akan mendukung Ahok sebagai gubernur, bahkan mendukungnya menjadi presiden RI apabila Ahok memeluk agama Islam dengan menyuruhnya untuk memeluk agama Islam. Beliau juga mengatakan bahwa sebagai Muslim ia ingin dipimpin oleh seseorang yang beragama Muslim juga. Secara tidak langsung merendahkan Ahok dan menunjukkan bahwa dengan Ahok yang merupakan non-Muslim, Ahok dirasa tidak berkualifikasi sebagai pemimpin.

Kedua kesesatan ini juga menimbulkan kesesatan pengalih perhatian dengan beliau yang terkesan bertele-tele dan menyombongkan diri untuk melakukan pencitraan sebagai calon gubernur DKI Jakarta dengan mengalihkan pembicaraan pada saat ditanya Najwa untuk maju sebagai calon gubernur atau tidak (dengan melakukan kesesatan verecundiam dan populum langsung) dan pada saat ditanya mengenai komentarnya mengenai kepercayaan yang dipegang Ahok (dengan melakukan kesesatan hominem sirkumstansial).

3. Mohammad Sanusi (Fraksi Partai Gerindra dan anggota DPRD DKI Jakarta)

Menggunakan kesesatan elenchi dan hominem merendahkan, pada saat beliau berkata bahwa Ahok ingin kembali ke Gerindra namun beliau mengatakan Gerindra tidak akan mau. Juga dengan beliau yang mengatakan bahwa Ahok terkesan "mengemis kepada Gerindra" pada saat Ahok ingin maju secara independen namun tidak mendapat KTP yang cukup. Beliau juga secara tidak langsung mekritisi gaya pemimpin Ahok yang keras dengan mengatakan "... pemimpin jangan jadi tontonan, harus menjadi tuntunan". Sambil menyinggung bahwa Ahok tegas namun tidak bisa menjaga perkataannya. Beliau secara tidak langsung juga mengatakan bahwa Ahok jujur namun terlalu sering mencari-cari kesalahan orang-orang yang dirasa tidak jujur. Terkesan menjelekkan Ahok untuk menurunkan elektabilitasnya dan secara tidak langsung merasa bahwa dirinya lebih mampu untuk memimpin Jakarta daripada Ahok dengan pembicaraan yang menjurus kepada rumor pencalonan dirinya sebagai calon gubernur.

4. Prasetyo Edi Marsudi

Kesesatan hominem merendahkan dengan elenchi. Saat ditanya mengenai kader PDIP yang berpotensi untuk maju ke pilkada Jakarta (Wagub Djarot) beliau malah menjuruskan pembicaraan dengan merendahkan Ahok yang dikata tidak beretika dengan omongannya yang dirasa terlalu keras. Beliau juga mengatakan bahwa cara kerja Ahok yang memecat PNS yang tidak bekerja dengan baik kegiatan pemerintahan menjadi tidak efektif. Secara tidak langsung menurunkan elektabilitas Ahok.

5. Bursah Zarnubi

Menggunakan kesesatan hominem merendahkan Ahok tidak beretika dengan dirasa berkata-kata kotor saat marah (gaya kepemimpinan yang keras) dan menuduh bahwa Ahok yang belum selesai menjabat sebagai gubernur sengaja menyuruh para relawan Teman Ahok untuk mendukungnya dengan mengumpulkan KTP. Beliau juga menuduh Teman Ahok mengolok-olok dirinya dengan menyebarkan poster yang membuatnya terkesan ingin maju sebagai calon gubernur dengan membentuk gerakan Lawan Ahok. Juga dengan mengatakan bahwa Ahok terkesan "mengemis dukungan" kepadanya. Kesesatan hominem sirkumstansial juga muncul dengan beliau mengungkit-ungkit latar belakang agama dan suku Ahok yang Kristen dan Tionghoa yang terkesan merendahkan dengan beliau berkata dengan latar belakang demikian Ahok kurang mendapat dukungan.

6. Tubagus Ramadhan

Menggunakan kesesatan argument bayangan dengan menanyakan apakah gerakan lawan Ahok ingin menghentikan Ahok untuk berkata-kata kotor atau menghentikan pemerintah yang otoriter. Berusaha untuk menunjukkan bahwa Bursah Zarnubi dan gerakannya tidak relevan dan bukan ingin menjadi gerakan moral tetapi ingin mencegah Ahok untuk melanjutkan pencalonannya sebagai calon gubernur DKI Jakarta.

7. Najwa Shihab

Dianggap kurang netral sebagai mediator dan jurnalis dalam forum ini dengan cenderung untuk mendukung Ahok. Dengan mengemukakan beberapa sarkasme di beberapa kesempatan.

Pada saat ia menanyakan Mohammad Sanusi mengenai Ahok yang tidak lagi diterima lagi oleh Gerindra. Ia berusaha menyerang dengan membacakan sebuah kutipan yang intinya bahwa Ahok masih diterima di Gerindra. Berusaha diklarifikasi oleh Moh. Sanusi namun Najwa malah berkata bahwa Gerindra plin-plan

Nada bicaranya dan raut muka yang terkesan mengejek pada saat ia melakukan klarifikasi saat Adhyaksa Dault mengaku tidak mendengar pernyataan Ahok yang mengatakan bahwa Adhyaksa Dault ingin Ahok masuk Islam.



30. Heribertus Bima Prabowo - 00000009133

                                     






Tugas mencari kesesatan Mata Najwa : Para Penantang Ahok


    1. Adhyaksa Dault : bertele-tele ketika menjawab. saat ditanya kesiapan untuk mencalonkan diri sebagai calon Gubernur, beliau malah menyombongkan dirinya. Padahal, pertanyaan yang diajukan Najwa hanya simpel siap atau tidak mencalonkan diri. Kesesatan Adhyaksa termasuk Pengalihan Perhatian.

    2. Tubagus Ramadhan : Saat bertanya pada Bursah tentang pendiriannya. Bursah menyimpulkan gerakan lawan Ahok yang bertujuan untuk menghentikan Ahok berkata kasar. Namun, Bursah juga sempat mengatakan gerakannya bertujuan menghentikan pemimpin otoriter.
Kesesatan Tubagus termasuk Argumen Bayangan.

   3.   Marko Kusumawijaya: mengatakan akan lebih memperhatikan kepentingan warga Jakarta dengan menyombongkan diri sebagai ahli tata kota. Sehingga lebih yakin membangun kota Jakarta menjadi lebih baik berdasar pengalamannya. Kesesatan ini termasuk kesesatan populum langsung.

        Pernyataan Najwa yang terlihat memihak Ahok:

-     Saat Mohamad Sanusi mengatakan bahwa Pak Ahok akan kembali masuk Gerindra, Najwa mengklarifikasi dengan menegaskan Pak Ahok sudah keluar dari Gerindra dan menanyakan alasan Sanusi begitu yakin Pak Ahok kembali lagi ke Gerindra.

-     Najwa merendahkan Sanusi dengan bertanya secara berulang-ulang dengan nada yang meremehkan "Anda yakin bisa melawan Ahok ? Bisa mengalahkannya? Pasti menang?"

Kritik/Saran : tagawafer12@yahoo.co.id 




"Berifikir Kritis adalah Kemampuan memberi alasan secara terorganisasi dan  mengevaluasi kualitas suatu alasan secara sistematis. - (Hassoubah)"

29. Calvin anggara - 00000009128

Tugas mencari kesesatan Mata Najwa : Para Penantang Ahok


1. Marco Kusumawijaya : kesesatan populum langsung : karena beliau berargumen tentang kehebatan dibidangnya dan berkata bahwa beliau lebih baik dibandingkan dengan ketiga kompetitor yang disebutkan oleh Najwa, memuji diri sendiri seakan-akan mempromosikan dirinya.

2. Parsetyo Edi Marsudi :
-kesesatan hominem merendahkan : beliau merendahkan Ahok dengan argumen "kerja baik, tapi kalo etika jelek buat apa."
-kesesatan elenchi : ketika di tanya Najwa tentang Jarot beliau malah menjelek-jelekan Ahok dengan berkata kita butuh kepemimpinan seperti Ahok, tapi kita ga butuh mulut seperti Ahok.

3. Mohammad Sanusi : kesesatan hominem merendahkan : dengan argumen tentang Ahok pasti akan kembali lagi ke gerindra, seakan-akan merendahkan Ahok tidak bisa apa-apa tanpa gerindra.

4. Adhyaksa Dault :
-kesesatan populum langsung : menyombongkan diri dengan berkata coba cari siapa yang lebih baik, lebih fresh dari saya. mempromosikan jabatan 5 tahun jadi mentri dan pengalamannya di Jakarta.

5. Tubagus Ramadhan : argumen bayangan : beliau mendistorsi argumen Bursah dengan mengatakan anda mau merubah perkataan kasar Ahok atau mengganti pemimpin yang otoriter?

6. Bursah Zarnubi : kesesatan verecundiam : beliau mengatakan bahwa teman Ahok pasti suruhan Ahok atau ada kerja sama, dan menuding teman Ahok yang membuat poster tentang dia.

7. Argumen Najwa yang terlihat pro Ahok : Najwa merendahkan Sanusi dengan bertanya secara berulang-ulang dengan nada yang meremehkan "anda yakin bisa melawan Ahok? Bisa? Pasti menang?"

Tugas mencari kesesatan Mata Najwa : Para Penantang Ahok

Tugas Mencari Kesesatan Dalam Acara “Mata Najwa: Para Penantang Politik”
Elizabeth Listiani.C
00000009023

    1.        Mohamad Sanusi (anggota DPRD fraksi Gerindra): beliau mengatakan dengan yakin bahwa Pak Ahok akan masuk ke Gerindra lagi. Beliau juga menjelaskan sejarahnya saat calon-calon Ahok independen sehingga ujungnya, Pak Ahok tidak mendapat KTP. Akhirnya, Pak Ahok bertemu orang Gerindra sehingga bisa masuk ke Gerindra. Hal itu yang semakin menegaskan dirinya dan Gerindra tidak lagi mendukung Ahok. Najwa menyerang pernyataan Sanusi dengan menjelaskan pernyataan dari Sandiagas, adik ketua umum sekaligus wakil ketua Dewan Pembina yang mengatakan pintu selalu terbuka untuk Pak Ahok. Kesesatan Sanusi termasuk Elenchi.

    2.       Adhyaksa Dault (Ketua Kwartir Nasional Pramuka): terlalu banyak bertele-tele ketika menjawab. Salah satunya saat ditanya kemantapannya untuk mencalonkan diri sebagai calon gubernur 2017, beliau malah menyombongkan teman-temannya yang berdaulat mendukung secara penuh. Padahal, pertanyaan yang diajukan Najwa hanya sesimpel siap atau tidak mencalonkan diri. Kesesatan ini termasuk pengalihan perhatian.
Contoh lainnya, teman-teman Adhyaksa mengutarakan bahwa Gubernur DKI harus beragama muslim. Ketika Najwa mengkonfirmasi pernyataan tersebut, Adhyaksa bertele-tele mengatakan pendukungnya tidak hanya orang pribumi, melainkan juga banyak tokoh. Baru pada kesimpulannya, beliau mengatakan dari sisi agama, beliau memang setuju Pak Ahok harus muslim supaya dirinya bisa ikut mendukung. Ini termasuk kesesatan hominem sirkumstansial sekaligus pengalihan perhatian.

    3.      Bursah Zarnubi (relawan lawan Ahok): beliau melakukan kesesatan hominem merendahkan sekaligus Elenchi saat ditanya apakah Ahok memang sering berkata kasar. Beliau dengan mantap menjawab sering sekali, lalu menjelek-jelekkan Ahok dengan berkata seorang pemimpin harusnya tidak mengeluarkan kata-kata seperti comberan.

    4.      Tubagus Ramadhan (relawan teman Ahok): melakukan argumen bayangan saat bertanya pada Bursah tentang pendiriannya. Pada awalnya, Bursah mengatakan gerakan lawan Ahok bertujuan untuk menghentikan Ahok berkata kasar. Namun, Bursah juga sempat mengatakan gerakannya bertujuan menghentikan pemimpin otoriter.



    5.      Marko Kusumawijaya: beliau mengatakan akan lebih memperhatikan kepentingan warga Jakarta saat ini dengan menyombongkan track record-nya sebagai ahli tata kota. Sehingga pasti lebih bisa menata kota Jakarta mejadi lebih baik berdasar pengalamannya tersebut. Kesesatan ini termasuk kesesatan populum langsung.

    6.      Pernyataan Najwa yang terlihat memihak Ahok:

a)      Saat Mohamad Sanusi mengatakan bahwa Pak Ahok akan kembali masuk Gerindra, Najwa mengklarifikasi dengan menegaskan Pak Ahok sudah keluar dari Gerindra dan menanyakan alasan Sanusi begitu yakin Pak Ahok kembali lagi ke Gerindra.
b)      Saat Bursah Zarnubi mengatakan sisi negatif dari Ahok, Najwa mengatakan ulang pernyataan Ahok yang jelas-jelas mendukung Bursah sebagai calon gubernur DKI Jakarta 2017.
            c) Dalam tanya jawabnya dengan Mohamad Sanusi, Najwa memperjelas pernyataan-pernyataan yang dikemukakan Sanusi perihal apakah beliau benar-benar yakin dapat memimpin Jakarta dibandingkan Ahok.