Senin, 28 September 2015

30. Heribertus Bima Prabowo - 00000009133

NAMA : Heribertus Bima Prabowo                                     

NIM     : 00000009133














WARTA KOTA, PALMERAH - BICARA soal rokok, Indonesia merupakan salah satu negara yang sebagian besar masyarakatnya perokok. Maka tak heran jika Indonesia menjadi sasaran empuk perusahaan rokok untuk memasarkan produknya. Iklan rokok pun dikemas sebaik mungkin untuk menarik perhatian publik. Namun, jika kita perhatikan iklan rokok belakangan ini, ada hal baru yang dicoba ditampilkan oleh iklan rokok.

Yaitu sebuah tulisan iklan "Merokok Membunuhmu" ditambah gambar tengkorak yang menemani seorang lelaki yang tengah menghisap rokok. Lalu, pertanyaan yang timbul adalah apakah tulisan dan gambar itu mampu menyadarkan perokok? Atau hanya sebuah cantuman peringatan basa-basi?

Perubahan yang dihadirkan iklan rokok ini didasarkan pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkas) Nomor 28 Tahun 2013 mengenai Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi Kesehatan pada Kemasan Produk Tembakau. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat tahu dampak dari rokok, yaitu berbagai penyakit dan juga kematian. Meski demikian, para perokok nyatanya pura-pura untuk tidak tahu. Ironis memang.

Mengutip berita pada health.detik.com tercatat angka kematian akibat rokok mencapai 239.000 per tahun. Angka ini lebih besar dibandingkan angka kematian ibu dikarenakan persalinan dan nifas. Sedangkan pada pemberitaan di health.liputan6.com rokok membunuh hampir enam juta orang per tahunnya. Angka kematian akan rokok ini ditujukkan pada negara yang berpenghasilan menengah dan rendah.

Membedah iklan rokok yang ada pada iklan membuat kita bertanya sebenarnya pesan apa yang ingin disampaikan oleh pembuat iklan tersebut. Bukankah sudah jelas jika "Merokok Membunuhmu" ingin mengingatkan kepada masyarakat bahwa merokok bisa membunuh meskipun tidak secara langsung.

Sayangnya, tagline lain jauh lebih besar dari kalimat "Merokok Membunuhmu" yaitu "Gentelmen, This Is Taste". Selain mencoba menakuti dengan peringatan dan juga gambar tengkorak, tapi gambar pria dengan muka senang-tanpa harus merokok menunjukkan inilah rokok yang sesungguhnya.

Meskipun rokok membawa dampak yang berbahaya, sayangnya tidak ada larangan keras dari pemerintah untuk menindaklanjuti kasus ini. Pihak pemerintah justru memandangnya dari segi ekonomi. Industri rokok mampu memberikan konstribusi bagi masyarakat Indonesia, mulai dari lapangan pekerjaan, beasiswa, maupun menjadi sponsor dalam berbagai kegiatan. Hal inilah yang tengah digencarkan perusahaan rokok untuk melawan ruang gerak rokok di ruang publik.

Jika demikian, apakah tagline "Merokok Membunuhmu" dengan serangkaian gambarnya telah menyadarkan masyarakat? Sepertinya sih tidak. Itu semua masih kalah dengan gencarnya kegiatan perusahaan rokok untuk mendekati masyarakat dengan membungkusnya lewat kegiatan positif. Rokok akan terus membangun imagenya dengan hal yang memberi kesan keren, seksi, dan menyenangkan daripada "Merokok Membunuhmu".

Jika tidak ada tindakan tegas dari pemerintah dan kesadaran masyarakat untuk berhenti merokok, jumlah perokok akan kian bertambah. Padahal, udara bersih menjadi kepentingan publik yang mempengaruhi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Bukan seperti peribahasa kura-kura dalam perahu yaitu mengetahui tapi pura-pura tidak tahu. Seharusnya kita sadar, bukan lagi pura-pura tidak tahu apa dampak negatif dari rokok. Bukan juga berpura-pura untuk mengikuti gaya hidup yang hanya merugikan diri sendiri dan orang lain. Semuanya kembali ke pribadi masing-masing. Hidup sehat tanpa rokok atau tampak keren nyatanya menderita?

Jadi dapat disimpulkan bahwa merokok itu tidak baik bagi kesehatan, walaupun masih banyak orang yang menanggap bahwa merokok itu sebagai suatu gaya hidup yang harus dinikmati keberadaanya. hal itu salah karena merokok dapat membunuhMu cepat atau lambat akibat akan fatal dimasa mendatang nanti.

Sumber : www.wartakota.timbunnews.com
Editor    : Andy
Judul     : Iklan Rokok Hanya Basa Basi







"Berifikir Kritis adalah Kemampuan memberi alasan secara terorganisasi dan  mengevaluasi kualitas suatu alasan secara sistematis. - (Hassoubah)"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar