Hubungan antara Ilmu Komunikasi dengan Berpikir Kritis dan Kreatif
Ilmu komunikasi adalah ilmu yang mempelajari tentang tata cara berkomunikasi serta menggunakan alat komunikasi sebagai pengantar komunikasi kepada masyarakat. Dalam berkomunikasi, diharapkan komunikator dapat menyampaikan informasi secara benar dan sesuai dengan kebenaran. Komunikasi juga mengajarkan untuk menjadi pendengar (komunikan) yang baik. Ilmu komunikasi bukan hanya sekedar belajar berbicara melainkan juga belajar dalam penulisan. Jurusan Ilmu Komunikasi berfokus pada dua peminatan, yaitu jurnalistik dan public relation.
Dalam ilmu komunikasi diajarkan bagaimana cara berpikir kritis dan kreatif. Dalam pembelajaran mengenai berpikir kritis dan kreatif, seorang calon jurnalis dan public relation harus dapat membedakan fakta dan opini, berargumen yang baik, dan langkah-langkah berpikir kritis. Jika seseorang mendalami jurnalistik, seseorang tersebut harus menjadi seorang yang berpikir kritis. Dalam menangani sebuah masalah, seorang jurnalis tidak hanya berpikir secara ringkas melainkan harus berpikir sampai ke akar permasalahan dan mendapatkan kesimpulan yang berlogika. Berpikir kritis dan kreatif harus menjadi aktif di dalam lingkungan masyarakat luas.
Untuk menjadi komunikator dan entre/technopreneurship yang handal harus memiliki pemikiran yang kreatif dan inovatif. Selain itu, sebagai technopreneurship handal harus bermodalkan kebenarian, pengetahuan yang luas, dapat meyakinkan seseorang melalui argumen, serta mampu memotivasi seseorang. Misalnya, Andy F. Noya, seorang jurnalis terkenal selain memiliki wawasan yang luas dengan cara berpikir yang kritis dan kreatif, tapi di sisi lain juga memotivasi seseorang. Dari sinilah dapat dilihat keterampilan yang dibangun menjadikan seseorang dapat menjadi komunikator dan technopreneurship handal.
Kemampuan berbahasa juga mempengaruhi dalam berkomunikasi. Melakukan komunikasi dengan orang lain juga harus memilih tata bahasa yang baik dan sopan. Dalam hubungannya dengan berargumentasi, bagaimana cara kita berbahasa dapat berpengaruh terhadap kepercayaan seseorang pada argumen yang disampaikan. Bahasa yang digunakan harus benar-benar jelas dan tidak menciptakan makna ganda (ambiguitas) dan kekaburan.
Dalam ilmu komunikasi diajarkan bagaimana cara berpikir kritis dan kreatif. Dalam pembelajaran mengenai berpikir kritis dan kreatif, seorang calon jurnalis dan public relation harus dapat membedakan fakta dan opini, berargumen yang baik, dan langkah-langkah berpikir kritis. Jika seseorang mendalami jurnalistik, seseorang tersebut harus menjadi seorang yang berpikir kritis. Dalam menangani sebuah masalah, seorang jurnalis tidak hanya berpikir secara ringkas melainkan harus berpikir sampai ke akar permasalahan dan mendapatkan kesimpulan yang berlogika. Berpikir kritis dan kreatif harus menjadi aktif di dalam lingkungan masyarakat luas.
Untuk menjadi komunikator dan entre/technopreneurship yang handal harus memiliki pemikiran yang kreatif dan inovatif. Selain itu, sebagai technopreneurship handal harus bermodalkan kebenarian, pengetahuan yang luas, dapat meyakinkan seseorang melalui argumen, serta mampu memotivasi seseorang. Misalnya, Andy F. Noya, seorang jurnalis terkenal selain memiliki wawasan yang luas dengan cara berpikir yang kritis dan kreatif, tapi di sisi lain juga memotivasi seseorang. Dari sinilah dapat dilihat keterampilan yang dibangun menjadikan seseorang dapat menjadi komunikator dan technopreneurship handal.
Kemampuan berbahasa juga mempengaruhi dalam berkomunikasi. Melakukan komunikasi dengan orang lain juga harus memilih tata bahasa yang baik dan sopan. Dalam hubungannya dengan berargumentasi, bagaimana cara kita berbahasa dapat berpengaruh terhadap kepercayaan seseorang pada argumen yang disampaikan. Bahasa yang digunakan harus benar-benar jelas dan tidak menciptakan makna ganda (ambiguitas) dan kekaburan.
kritik dan saran : fransiscacaa@yahoo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar