Keefektifan
MOS
MOS atau Masa Orientasi Siswa mempunyai banyak sisi
pro dan kontra. Tujuan awal kegiatan ini adalah mengenalkan calon siswa-siswi
baru kepada lingkungan sekolah. Kegiatan ini merupakan salah satu contoh
kegiatan yang positif, karena siswa-siswi diajak untuk lebih mengenal tata cara
belajar, kegunaan fasilitas sekolah, ekstrakulikuler sekolah, dan masih banyak
lagi. Dengan MOS, siswa-siswi diharapkan dapat memiliki gambaran seperti apa
belajar ditingkatan yang lebih tinggi dari sebelumnya seperti SD ke SMP, SMP ke
SMA, dan SMA ke Universitas.
Namun, belakangan ini kegiatan MOS banyak disalah artikan
oleh siswa-siswi senior sekolah. Mereka menganggap kegiatan MOS adalah ajang
untuk menunjukkan kekuasaan kepada juniornya, dengan cara memarahi, mempermalukan,
bahkan ada yang sampai melukai fisik. MOS sudah menjadi sebuah bentuk bullying.
Karena hal ini, banyak kasus siswa-siswi yang tidak kuat sampai akhirnya jatuh
sakit karena kelelahan bahkan ada yang sampai meninggal. Kegiatan MOS terlalu
melelahkan dan terkesan paksaan. Kegiatan ini pun mulai turun-temurun ke
generasi selanjutnya sampai pada akhirnya kegiatan MOS menjadi ajang balas
dendam senior kepada junior, karena mereka diperlakukan seperti itu oleh
generasi sebelumnya.
MOS mulai menjadi tidak efektif dan tidak baik. Sudah
banyak orang tua yang tidak terima dan mengeluh akan hal ini dan menimbulkan
banyak pro dan kontra.
Untuk itu, kami melakukan survei kepada beberapa orang
tentang “Bagaimana keefektifan MOS untuk anda?” Menurut 3 dari 5 orang yang
kami tanyai, mereka mengatakan setuju dengan adanya kegiatan MOS ini. 3 orang
berpendapat bahwa dengan adanya kegiatan MOS ini dapat membentuk mental dan
karakter seseorang untuk lebih siap menghadapi kehidupan sekolah dengan tingkat
yang lebih tinggi selanjutnya. Ketiga orang ini menyatakan bahwa dengan adanya
kegiatan MOS seperti; pengenalan sekolah dan aksi lucu-lucuan (rambut diikat
sesuai tanggal lahir, pakai kaos kaki belang, memakai tas dari tempat sampah)
junior-junior akan terbentuk mental dan karakternya untuk lebih siap menghadapi
sekolah barunya. 2 orang tidak setuju, karena kegiatan MOS ini merupakan ajang
balas dendam agar junior bisa merasakan apa yang senior rasakan dahulu. Mereka
merasa MOS tidak membawa pengaruh baik bahkan membuat mereka sampai harus masuk
ke medis karena terlalu lelah.
Jadi, sebagian besar siswa-siswi memilih agar kegiatan
MOS tetap diadakan karena pihak sekolah masih berusaha untuk mempertahankan
nilai-nilai budaya yang ditanamkan pada kegiatan MOS dan masih banyak senior yang berusaha memperbaiki kegiatan MOS agar lebih efektif dan menyenangkan untuk generasi selanjutnya, sehingga membuat
calon siswa-siswi baru antusias untuk mengikutinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar