Hubungan
Ilmu Komunikasi dengan berfikir kritis dan kreatif
Komunikasi adalah cara penyampaian(komunikator) atau
penerima (komunikan) pesan dari individu maupun kelompok. Dalam setiap
aktifitas manusia melakukan banyak model komunikasi. Cara berkomunikasi bisa
disampaikan secara verbal maupun non verbal. Maka Ilmu Komunikasi adalah ilmu
yang mempelajari tata cara berkomunikasi. Tata cara komunikasi disini adalah
bagaimana kita dapat menyampaikan informasi yang tepat dan benar. Supaya tidak
terjadi kekeliruan dan ambiguitas. Tidak hanya dalam berfikir dalam hal
mempelajari sesuatu ada tingkatan tertentu, misalnya mengenai Blooms Taxonomy
atau Level of Learning. Dasar awal kita belajar dari remembering hingga creating sesuatu hal yang akan kita pelajari.
Saat kita mempelajari Ilmu Komunikasi kita dituntut nuntuk
menyampaikan informasi yang baik dan tepat, maka dari itu sebelum kita
mengemukakan pertanyaan, pernyataan, atau pendapat kita dalam berkomunikasi.
Kita harus memikirkan pesan apa yang akan kita sampaikan. Maka dari itu sangat
penting bagi kita mempelajari cara berfikir kritis dan kreatif. Contoh
pemikiran yang kritis disini bukan hanya kita menjawab segala pertanyaan dengan
santai dan cepat, tetapi seseorang yang dapat menggemukan pendapat dengan kritis
dia akan menggunakan logika dia dan melihat kepada realita. Menjadi
komunikator, Technopreneurship yang handal sangatlah membutuhkan usaha dan
pemikiran yang luas, karena kita harus melihat dari berbagai macam sisi dan
sumber yang ada. Dasar dari pemikiran yang kritis adalah menggunakan logika
jika logika berjalan dengan baik maka kita dapat menjadi komunikator yang
handal.
Ide-ide dalam berfikir kritis dan kreatif dapat diwujudkan jika
kita menjawab sebuah masalah dengan melihat berbagai macam aspek, dengan
realita yang ada. Contoh hal tersebut adalah jika kita mendapat masalah, kita
tidak memprioritaskan apa yang kita anggap mudah, tetapi melihatnya dari
berbagai macam arah. Begitu juga dalam keterampilan berargumen, argumen yang
kita berikan harus terbukti kebenarannya tidak hanya memojokan satu pihak.
Contohnya seperti kita dihadapkan dalam suatu masalah yang memiliki
pertimbangan yang berat, kita harus bisa berargumen jika yang dilakukan dari
hal tersebut adalah salah.
Kritik dan Saran : silviaveronika@outlook.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar