Hubungan Berpikir Kritis dan Kreatif Terhadap Ilmu Komunikasi
Ilmu komunikasi adalah ilmu yang mengajarkan kita cara
berkomunikasi dengan baik dan benar. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa
yang tepat, serta apa yang kita sampaikan harus logis dan juga koheren. Ketika
memutuskan untuk mengambil ilmu komunikasi, hal yang akan kita pelajari adalah
bagaimana menyampaikan suatu informasi baik secara verbal maupun non-verbal
kepada orang lain dan membuat mereka terpengaruh akan apa yang kita sampaikan.
Selain itu, seorang
komunikator tidak bisa asal pada saat menyampaikan informasi, namun menyusun
sebuah informasi secara baik dan benar dengan menggunakan langkah-langkah yang
ada terlebih dahulu.
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan yang pertama adalah
menginderifikasi sebuah masalah terlebih dahulu, tidak langsung jump into
conclusion. Yang kedua mencari cara dalam menyelesaikan masalah yang ada
kemudian mengumpulkan dan menyusun informasi yang diperlukan. Dalam menyusun
informasi tersebut, kita harus menggunakan bahasa yang tepat dan yang sesuai
dengan topik agar tidak terjadi keambiguan pada sebuah informasi. Setelah itu,
evaluasi malasah seluruh fakta dan data yang ada kemudian menarik kesimpulan.
Karena pada dasarnya komunikasi tidak hanya berbicara mengenai menyampaikan
informasi melainkan menerima informasi juga, diperlukan suatu ketrampilan untuk
mengkritisi setiap informasi yang kita terima. Pada saat menerima informasi,
kita tidak langsung mempercayai informasi tersebut namun mencari tahu lebih lagi
tentang informasi yang diberikan.
Sebagai mahasiswa ilmu komunikasi UMN, tentunya kita tidak
lepas dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh Kompas Gramedia yaitu 5C; caring,
credible, competent, competitive, and customer delight. 5 hal itulah yang akan
membantu kita menjadi komunikator dan techno/entre-preneur yang handal. Sesuai dengan
tagline UMN yaitu “Excellent Career Begins With Excellent Education”, UMN
mengharapkan kita untuk memiliki karir yang gemilang yang dimulai dengan
pendidikan yang terbaik. Karir yang gemilang dapat kita capai ketika kita
memiliki pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat kita. Seperti misalnya
seorang mahasiswa ilmu komunikasi sukses menjadi komunikator yang handal
atau menjadi techno/entre-preneur yang
sukses. Ia mencapai kesuksesan tersebut karena minat dan bakatnya ditunjang
oleh pendidikan yang mendukungnya untuk mencapai kesuksesan tersebut.
Untuk menjadi komunikator yang handal, dibutuhkan
pengetahuan yang luas terutama mengenai topic yang akan dibicarakan. Misalnya,
seorang dosen akan membahas topic politik. Apabila sang dosen tidak memiliki
pengetahuan yang cukup luas di bidang politik maka informasi yang disampaikan
tidak dapat tersampaikan secara efektif. Pengetahuan yang luas juga dibutuhkan untuk
menjadi techno/entre-preneur. Seorang techno/entre-preneur tidak bisa menjalankan
usahanya dengan baik apabila pengetahuan mengenai usaha yang dijalankannya
tidak luas.
Ketrampilan juga dibutuhkan untuk menjadi komunikator dan
techno/entre-preneur yang handal. Ketrampilan seperti menyimpulkan informasi
kemudian memanfaatkan informasi untuk memecahkan suatu masalah, menilai suatu
hal secara objektif dan juga melakukan analisis dan introspeksi. Contohnya,
suatu perusahaan tengah mengalami kerugian besar. Seorang pengusaha yang kritis
akan mencari informasi yang ia butuhkan seperti apa penyebab perusahaan
tersebut mengalami kerugian besar, apa yang bisa ia lakukan, kemudian
menggunakan setiap informasi yang ada untuk memecahkan masalah perusahaan
tersebut.
Sebagai calon-calon jurnalis penerus, tentunya kita
membutuhkan kemampuan dan ketrampilan untuk berargumentasi dan mutlak untuk
dikuasai. Terutama sebagai jurnalis yang trampil dan kritis. Seperti ketika
berargumen harus menyertakan bukti dan alasan yang kuat, tidak asal mengkritik
sesuatu hal, trampil dalam membuat seseorang atau orang banyak percaya dan
memberikan alasan mengapa hal tersebut harus dipercayai.
Dalam menulis sebuah artikel politik misalnya. Seorang jurnalis
harus menuliskan arugmen-argumen yang tidak
hanya berkontradiksi namun memberikan sebuah alasan dan bukti yang kuat mengapa
ia membenarkan atau menyalahkan hal tersebut. Apabila alasan yang diberikan
tidak valid, maka akan sulit untuk membuat masyarakat percaya mengenai hal
tersebut. Meskipun pada kenyataannya hal yang ia katakan benar adanya. Namun,
karena alasan dan juga bukti yang ia sertakan tidak kuat (hanya berdasarkan
pendapatnya saja) maka ia gagal menjadi jurnalis yang trampil.
Jadi, untuk menjadi seorang komunikator yang handal
dibutuhkan setiap ketrampilan untuk berpikir kreatif dan juga kritis agar dapat
memberikan pengaruh atau dampak terhadap orang banyak.
kritik dan saran: karissabelinda@yahoo.com
kritik dan saran: karissabelinda@yahoo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar