Jumat, 16 Oktober 2015

4. Sarah Yovanka Dhian - 00000008872 & 18. Silvia Veronika Sitompul - 00000009031

Penggunaan bahasa asing sebagai bahasa sehari – hari di negara Indonesia
Jaman sekarang di kehidupan moderen ini, masyarakat mau tidak mau menerima arus globalisasi dan teknologi yang pesat  sehingga mau tidak mau bahasa asing hadir dalam negara kita. Bahasa asing terutama bahasa internasional yaitu bahasa Inggris sudah tidak tabu lagi untuk dimengerti dan banyak orang yang menggunakan bahasa asing sebagai bahasa sehari – hari, baik di rumah, sekolah, kantor dan tempat umum lainnya. Tidak hanya penggunaan bahasa asing yang digunakan secara langsung tetapi sebagai trend masyarakat mulai mencampur bahasa ibu dengan bahasa asing. Bahkan karena bahasa asing terlalu sering digunakan sehingga masyarakat seringkali tidak mengetahui arti atau bahasa Indonesianya. Tidak hanya orang dewasa yang sudah menggunakan bahasa asing dalam kehidupan sehari – hari, remaja, ibu – ibu dan juga anak kecil mulai menikmati menggunakan bahasa asing dan lupa bahwa memiliki bahasa ibu yaitu bahasa Indonesia. Banyak juga generasi muda yang lebih senang menggunakan bahasa asing ketimbang bahsa Indonesia karena terlihat lebih keren dan pintar (berpendidikan). Sekolah internasional pun mengajarkan semuanya dengan menggunakan bahasa asing, apalagi banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya sejak kecil di sekolah internasional sehingga anak sudah terbiasa menggunakan bahasa asing dibanding bahasa Indonesia. Namun apakah itu dapat berdapak buruk bagi generasi penerusnya apabila bahasa Indonesia tidak berkembang bahkan akan hilang karena kalah bersaing dengan bahasa asing?
Kami mewawancarai seorang karyawan HRD lulusan Psikologi. Beliau beranggapan bahwa penggunaan bahasa asing dalam kehidupan sehari – hari tidak bermasalah jika mengetahui tempat dan batas kewajarannya. Mengapa demikian? Karena tidak sedikit juga orang yang mulai mengerti bahasa asing terutama bahasa Inggris. Selain dapat terjadi miskomunikasi juga dapat terjadi hal – hal yang tidak diinginkan misal dianggap sok pintar, sombong dan sebagainya. Tidak hanya itu, karena negara Indonesia memiliki bahasa Ibu yaitu bahasa Indonesia maka sebagai warga Indonesia yang baik tentu harus melestarikan bahasa sendiri dan tidak meninggalkan bahasa Indonesia karena sudah terbawa oleh bahasa asing. Beliu berkata juga bahwa ia setuju apabila masyarakat dapat berbahasa asing untuk menghadapi kemajuan globalisasi namun tetap sesuai pada porsinya dan bila itu diperlukan misal untuk pendidikan, interview kerja, kerja sama dengan perusahaan asing atau tenaga asing dan banyak lagi, selebihnya masyarakat juga dapat berkomunikasi dengan bahasa Indonesia untuk kehidupan sehari – hari.
Menurutnya bahasa Indonesia perlu di jaga walaupun bahasa asing berkembang pesat di Indonesia, dan menggunakan bahasa asing tidak hanya untuk bergaya dan merasa mampu untuk berkomunikasi dengan bahasa asing (gengsi). Bahasa asing memang sangat diperlukan untuk suatu kepentingan tetapi sebagai warga negara Indonesia, alangkah baiknya juga kita menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari – hari tanpa harus mencampur atau mengubah keseluruhan bentuk bahasa Indonesia itu sendiri.
Jadi hasil wawancara dengan narasumber kami adalah narasumber bersikap netral terhadap hal tersebut karena menggunakan bahasa asing terdapat nilai positif dan juga terdapat nilai negatif apabila meninggalkan bahasa ibu. Solusinya adalah menggunakan bahasa asing dapat dilakukuan sesuai pada porsinya dan ada batasnya sehingga generasi muda tidak hanya dapat mengembangakan bahasa asing tetapi bahasa Indonesia juga sebagai bahasa ibu.


kritik dan saran : sarahyovanka@gmail.com & silviaveronika@outlook.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar