Sabtu, 17 Oktober 2015

3. Pauline Octaviany - 00000008871 dan 13. Teresa Anindita R. Banjuradja - 00000008989

Ahok, menuju Jakarta yang lebih baik ?



Mungkin banyak diantara kita yang sering mendengar nama ini. Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasanya kita kenal dengan nama Ahok. Seorang wakil Gubernur DKI yang kemudian menjadi Gubernur DKI  yang fenomenal. Mengapa Ahok disebut Gubernur yang fenomenal? Tentu saja hal tersebut didasari oleh banyak alasan, namun yang yang paling menonjol adalah gebrakan-gebrakannya untuk mendobrak seluruh  “sampah masyarakat” yang ada di ibukota negara Indonesia ini.  Tanpa rasa gentar ia membuat berbagai kebijakan yang diantaranya sangat fenomenal, yang menimbulkan banyak reaksi di kalangan masyarakat.
Banyak sekali gebrakan dan kebijakan yang ia telah buat, misalnya pemangkasan dan transparansi anggaran Pedimprov DKI Jakarta. Saat itu masyarakat Jakarta dan Ahok cukup dikejutkan oleh kenyataan bahwa angggaran pembuatan pidato mencapai 1,2 milliar. Ahok pun dengan tegas memerintahkan untuk mengurangi anggaran tersebut. Ahok juga memulai transparansi anggaran dengan mengumumkan APBD DKI Jakarta secara terbuka, bahkan gaji Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pun tidak sungkan dipublikasikan secara terbuka pada masyarakat.
Selain itu, Ahok juga memperbaiki pengelolaan rusun Marunda. Seperti yang diberitakan di media massa bahwa pengelolaan rusun di DKI Jakarta tidak beres. Ternyata adanya permainan oleh pengelola rusun tersebut, sehingga orang-orang kaya dan bermobil dapat menempati rusun tersebut. Akhirnya Ahok mengambil tindakan dengan mengganti pengelola rusun Marunda. Kini rusun Marunda telah diluruskan kembali kepada tujuan utama, yaitu bagi masyarakat yang tidak mampu. Dan saat ini penghuni rusun diberikan kemudahan dan keringan, serta disediakan berbagai fasilitas agar penghuni rusun dapat tinggal dengan aman dan nyaman, sehingga bisa beraktivitas dengan tenang.
Yang tidak kalah menarik, Ahok juga memaksimalkan pelayanan birokrasi Pemprov DKI Jakarta. Ahok lah yang melaksanakan lelang jabatan Camat dan Lurah di DKI Jakarta untuk memperbaiki birokrasi pemerintah DKI Jakarta yang merupakan salah satu tugas utama Ahok. Lurah dan Camat yang tidak berkompeten, tidak memiliki visi dan misi untuk memajukan DKI Jakarta dan memberikan pelayanan terbaik akan tergusur. Akhirnya didapatkan Camat dan Lurah dari hasil seleksi yang ketat dan adil, sehingga tidak adalagi pemilihan asal karena penempatan Camat dan Lurah merupakan murni berdasarkan kemampuan dan kompetensi. Selain itu, Ahok tidak segan memberikan hukuman kepada para PNS yang melakukan pelanggaran. PNS yang malas dan tidak memiliki kemampuan pun sering dikritik Ahok secara langsung.
Mungkin Ahok adalah satu-satunya Gubernur yang berani mengunggah rekaman rapat yang dipimpinnya ke media sosial youtube. Hal ini ia lakukan guna transparansi dan pertanggungjawaban kinerja pemerintah DKI Jakarta. Sehingga masyarakat tahu apa saja yang hendak dilakukan oleh pemerintah daerah sehingga bisa dipantau realisasi dan tindakan nyatanya. Para pejabat dan pegawai yang terlibat di rapat pun akan menjadi sadar bahwa kinerjanya sedang dipantau oleh masyarakat.
Namun tentu saja, terpilihnya Ahok menjadi Gubernur DKI tidaklah membuat semua orang merasa gembira. Ada juga orang-orang tertentu yang merasa kehadiran Ahok di dunia politik DKI itu merugikan. Maka dari itu tak jarang kita menemukan di media orang-orang  berkomentar terhadap kebijakan Ahok yang mereka rasa tidak sepatutnya ia lakukan. Memang disatu pihak Ahok disegani, namun dilain pihak ada juga yang hendak menyerang.
Beberapa kebijakan Ahok yang menimbulkan kecaman dari sebagian masyarakat. Diantaranya, Ahok memberikan kebijakan untuk membongkar masjid-masjid bersejarah yang telah berdiri selama puluhan tahun, seperti masjid Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan masjid Baitul Arif di Jatinegara. Selain itu dalam sebuah wawancara, Ahok juga mendukung legalisasi pelacuran yaitu lokalisasi dan menyebut yang menolak lokalisasi pelacuran adalah munafik, termasuk Ormas Islam terbesar Muhammadiyah. Akibat pernyataannya tersebut Muhamadiyah resmi melaporkan Ahok ke polisi dengan pasal penghinaan.
Kasus yang cukup kontroversial adalah kebijakan Ahok untuk mengeluarkan aturan larangan menyembelih hewan kurban di sekolah negeri dan masjid. Menurutnya, pemotongan hanya dibolehkan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH).
Kebanyakan pihak yang tidak menyukai Ahok juga dikarenakan gaya berbicaranya. Menurut hasil wawancara kami, persuasif dan berwibawa bukanlah gaya Ahok berkomunikasi. Ahok lebih dikenal dengan gaya bicara yang ceplas ceplos dan sering kali bernada tinggi, sehingga membuka peluang untuk menciptakan ‘musuh’ dan menimbulkan kesan yang buruk. Maka tidak heran karena gaya bicaranya, seringkali ‘menyakiti’ perasaan pihak lain. Misalnya, rencana untuk memulangkan para pendatang di Jakarta yang tidak mampu. Seperti yang di liput di beberapa media massa yang juga diunggah di youtube, dapat terlihat jelas nada kemarahan Ahok terhadap beberapa pejabat publik di DKI Jakarta.
Namun tidak semua orang beranggapan demikian. Contohnya Chistian K. Y. (18) ,”lebih baik kasar tapi jujur, daripada santun tapi korupsi".
Seperti dilansir dari Metronews.com pada tanggal 16 Juni 2015 hasil survei Periskop Data menunjukkan, bahwa selain masyarakat puas dengan kinerja Ahok, masih banyak pula persentase dari mereka yang tidak menyukai gaya kepemimpinannya..
Sebanyak 48,2 persen warga Ibu kota mengaku puas dengan kinerja Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama dalam membenahi Jakarta. Dan 42,4 pesen warga suka gaya kepemimpinan Ahok. Demikian survei Periskop Data yang dilakukan 1 -7 Juni 2015 kepada 500 responden.
 Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Ahok diukur dalam lima aspek, yakni politik, ekonomi, sosial, keamanan, dan penegakkan hukum.

Namun selain kinerja, Periskop Data juga melakukan survei terkait gaya kepemimpinan Ahok. Data menunjukkan sebanyak 42,4 persen warga DKI mengatakan mantan Bupati Belitung Timur ini memiliki gaya kepemimpinan yang baik, sementara 33,2 persen menyatakan tidak baik.
 
Alasan masyarakat menilai gaya kepemimpinan Ahok, baik antara lain Tegas (66,4%), Berani (12%), Jujur dan dekat dengan rakyat (5,1%), Disiplin (3,7%), Berwibawa (2,8%), Bijaksana, Program Kebersihan Kota, Modern, Bertanggung Jawab, Sederhana (0,9%) dan Inspiratif (0,5).

Alasan masyarakat menilai sikap Ahok tidak baik antara lain, Arogan/sombong (76,6%), Kurang Dekat dengan Rakyat (9,7%), Ceplas Ceplos (6,3%), Otoriter (2,9%), Kurang Tegas (2,3%), Kinerja Belum Terbukti (0,6%) dan tidak tahu atau tidak menjawab (1,7%).

Dibenci sekaligus dicinta. Ahok memang banyak disegani, tapi ada pula yang tidak menyukainya. Seperti pepatah berkata, "Semakin tinggi pohon, makin kencang angin yang menerpa". Kalimat ini sepertinya sangat cocok ditujukan untuk Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok. Melihat persetase angka tersebut serta apa yang telah Ahok kerjakan selama masa jabatan yang ia emban. Apakah Ahok menuju Jakarta yang lebih baik ?
Sumber : http://news.metrotvnews.com/read/2015/06/16/405048/kebanyakan-warga-jakarta-puas-kinerja-ahok

Kritik dan saran :
theresa.anindita@gmail.com
pauline_octaviany@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar