Ahok,
menuju Jakarta yang lebih baik ?
Mungkin banyak diantara kita yang sering
mendengar nama ini. Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasanya kita kenal dengan
nama Ahok. Seorang wakil Gubernur DKI yang kemudian menjadi Gubernur DKI
yang fenomenal. Mengapa Ahok disebut Gubernur yang fenomenal? Tentu saja hal
tersebut didasari oleh banyak alasan, namun yang yang paling menonjol adalah
gebrakan-gebrakannya untuk mendobrak seluruh “sampah masyarakat” yang ada di ibukota negara
Indonesia ini. Tanpa rasa gentar ia
membuat berbagai kebijakan yang diantaranya sangat fenomenal, yang menimbulkan
banyak reaksi di kalangan masyarakat.
Banyak sekali gebrakan dan kebijakan yang
ia telah buat, misalnya pemangkasan dan transparansi anggaran Pedimprov DKI Jakarta. Saat itu masyarakat
Jakarta dan Ahok cukup dikejutkan oleh kenyataan bahwa angggaran pembuatan
pidato mencapai 1,2 milliar. Ahok pun dengan tegas memerintahkan untuk mengurangi
anggaran tersebut. Ahok juga memulai transparansi
anggaran dengan mengumumkan APBD DKI Jakarta secara terbuka, bahkan gaji
Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pun tidak sungkan dipublikasikan secara
terbuka pada masyarakat.
Selain itu, Ahok juga memperbaiki
pengelolaan rusun Marunda. Seperti yang diberitakan di media massa bahwa pengelolaan
rusun di DKI Jakarta tidak beres. Ternyata adanya permainan oleh
pengelola rusun tersebut, sehingga orang-orang kaya dan bermobil dapat
menempati rusun tersebut. Akhirnya
Ahok mengambil tindakan dengan mengganti pengelola rusun
Marunda. Kini rusun Marunda telah diluruskan kembali kepada tujuan utama, yaitu bagi masyarakat yang tidak mampu. Dan saat ini penghuni rusun diberikan kemudahan dan keringan, serta
disediakan berbagai fasilitas agar penghuni rusun dapat tinggal dengan aman dan
nyaman, sehingga bisa beraktivitas dengan
tenang.
Yang tidak kalah menarik,
Ahok juga memaksimalkan pelayanan birokrasi Pemprov DKI Jakarta. Ahok lah yang melaksanakan lelang jabatan Camat dan Lurah di DKI
Jakarta untuk memperbaiki birokrasi pemerintah DKI Jakarta yang merupakan salah
satu tugas utama Ahok. Lurah dan Camat yang tidak berkompeten, tidak memiliki
visi dan misi untuk memajukan DKI Jakarta dan memberikan pelayanan terbaik akan
tergusur. Akhirnya didapatkan Camat dan Lurah dari hasil seleksi yang ketat dan
adil, sehingga tidak adalagi pemilihan asal karena penempatan Camat dan Lurah
merupakan murni berdasarkan kemampuan dan kompetensi. Selain itu, Ahok tidak
segan memberikan hukuman kepada para PNS yang melakukan pelanggaran. PNS yang
malas dan tidak memiliki kemampuan pun sering dikritik Ahok secara langsung.
Mungkin Ahok adalah satu-satunya
Gubernur yang berani mengunggah rekaman rapat yang dipimpinnya ke media sosial youtube. Hal ini ia lakukan guna
transparansi dan pertanggungjawaban kinerja pemerintah DKI Jakarta. Sehingga
masyarakat tahu apa saja yang hendak dilakukan oleh pemerintah daerah sehingga
bisa dipantau realisasi dan tindakan nyatanya. Para pejabat dan pegawai yang
terlibat di rapat pun akan menjadi sadar bahwa kinerjanya sedang dipantau oleh
masyarakat.
Namun tentu saja, terpilihnya Ahok
menjadi Gubernur DKI tidaklah membuat semua orang merasa gembira. Ada juga orang-orang
tertentu yang merasa kehadiran Ahok di dunia politik DKI itu merugikan. Maka dari itu tak
jarang kita menemukan di media orang-orang berkomentar terhadap kebijakan Ahok yang
mereka rasa tidak sepatutnya ia lakukan. Memang disatu pihak Ahok disegani, namun dilain pihak ada juga yang hendak menyerang.
Beberapa kebijakan Ahok yang menimbulkan
kecaman dari sebagian masyarakat.
Diantaranya, Ahok memberikan kebijakan untuk membongkar masjid-masjid
bersejarah yang telah berdiri selama puluhan tahun, seperti masjid Amir
Hamzah di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan masjid Baitul Arif di Jatinegara. Selain
itu dalam sebuah wawancara, Ahok juga mendukung legalisasi pelacuran yaitu
lokalisasi dan menyebut yang menolak lokalisasi pelacuran adalah munafik, termasuk Ormas Islam
terbesar Muhammadiyah. Akibat pernyataannya tersebut Muhamadiyah resmi
melaporkan Ahok ke polisi dengan pasal penghinaan.
Kasus yang cukup kontroversial
adalah kebijakan Ahok untuk mengeluarkan aturan larangan menyembelih hewan
kurban di sekolah negeri dan masjid. Menurutnya, pemotongan hanya dibolehkan di
Rumah Pemotongan Hewan (RPH).
Kebanyakan pihak yang tidak menyukai Ahok juga
dikarenakan gaya berbicaranya. Menurut hasil wawancara kami, persuasif dan
berwibawa bukanlah gaya Ahok berkomunikasi. Ahok
lebih dikenal dengan gaya bicara yang ceplas ceplos dan sering kali bernada tinggi, sehingga membuka
peluang untuk menciptakan ‘musuh’ dan menimbulkan
kesan yang buruk. Maka tidak heran
karena gaya bicaranya,
seringkali ‘menyakiti’ perasaan pihak lain.
Misalnya, rencana untuk memulangkan para pendatang di Jakarta yang tidak mampu. Seperti yang di liput di
beberapa media massa yang juga diunggah di youtube, dapat terlihat jelas nada kemarahan Ahok
terhadap beberapa pejabat publik di DKI Jakarta.
Namun tidak semua orang beranggapan demikian. Contohnya Chistian
K. Y. (18) ,”lebih baik kasar tapi jujur, daripada santun
tapi korupsi".
Seperti dilansir dari Metronews.com pada tanggal 16 Juni 2015 hasil survei Periskop Data
menunjukkan, bahwa selain masyarakat puas dengan kinerja Ahok, masih banyak
pula persentase dari mereka yang tidak menyukai gaya kepemimpinannya..
Sebanyak 48,2 persen warga Ibu kota mengaku puas
dengan kinerja Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama dalam membenahi Jakarta. Dan 42,4 pesen warga suka gaya kepemimpinan Ahok.
Demikian survei Periskop Data yang dilakukan 1 -7 Juni 2015 kepada 500
responden.
Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Ahok diukur dalam lima aspek, yakni politik, ekonomi,
sosial, keamanan, dan penegakkan hukum.
Namun selain kinerja, Periskop Data juga melakukan
survei terkait gaya kepemimpinan Ahok. Data menunjukkan sebanyak 42,4 persen
warga DKI mengatakan mantan Bupati Belitung Timur ini memiliki gaya
kepemimpinan yang baik, sementara 33,2 persen menyatakan tidak baik.
Alasan masyarakat menilai gaya kepemimpinan Ahok, baik antara lain Tegas
(66,4%), Berani (12%), Jujur dan dekat dengan rakyat (5,1%), Disiplin (3,7%),
Berwibawa (2,8%), Bijaksana, Program Kebersihan Kota, Modern, Bertanggung
Jawab, Sederhana (0,9%) dan Inspiratif (0,5).
Alasan masyarakat menilai sikap Ahok tidak baik antara lain, Arogan/sombong
(76,6%), Kurang Dekat dengan Rakyat (9,7%), Ceplas Ceplos (6,3%), Otoriter
(2,9%), Kurang Tegas (2,3%), Kinerja Belum Terbukti (0,6%) dan tidak tahu atau
tidak menjawab (1,7%).
Dibenci sekaligus dicinta. Ahok memang banyak
disegani, tapi ada pula yang tidak menyukainya. Seperti pepatah berkata,
"Semakin tinggi pohon, makin kencang angin yang menerpa". Kalimat ini sepertinya sangat
cocok ditujukan untuk Basuki Tjahaja Purnama,
alias Ahok. Melihat persetase angka tersebut serta apa yang telah Ahok kerjakan
selama masa jabatan yang ia emban. Apakah Ahok menuju Jakarta yang lebih baik ?
Sumber :
http://news.metrotvnews.com/read/2015/06/16/405048/kebanyakan-warga-jakarta-puas-kinerja-ahok
Kritik dan saran :
theresa.anindita@gmail.com
pauline_octaviany@yahoo.com
theresa.anindita@gmail.com
pauline_octaviany@yahoo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar